Bacirita Mawale di Wale Papendangan: Membaca Kembali Adat, Identitas, dan Kontekstualitas Minahasa

 

Pada 4 Juni 2022, Wale Papendangan di Talikuran, Sonder, menjadi tempat berlangsungnya Bacirita Mawale dengan tema “Minahasa: Adat, Identitas dan Kontekstualitas.” Pertemuan ini memperlihatkan kembali salah satu hal penting dalam perjalanan kebudayaan Minahasa: kebutuhan untuk terus berbicara, mendengar, dan memikirkan kembali siapa diri kita, dari mana kita berangkat, serta bagaimana kebudayaan dibaca dalam perubahan zaman.

Judul kegiatan itu sendiri sudah mengandung arah yang jelas. Tema adat, identitas, dan kontekstualitas menunjukkan bahwa pembicaraan tentang Minahasa tidak diletakkan semata-mata pada nostalgia atau pada keinginan untuk mengulang masa lalu. Adat dibawa ke ruang diskusi bukan hanya sebagai warisan yang dipuji, melainkan sebagai pengetahuan hidup yang perlu dipahami kembali dalam konteks kehidupan hari ini. Identitas juga tidak dibicarakan sebagai sesuatu yang selesai dan tetap, tetapi sebagai sesuatu yang terus dibentuk, dinegosiasikan, dipertanyakan, dan dihidupi dalam pengalaman sehari-hari.

Sementara itu, kata kontekstualitas menjadi penting karena ia mengingatkan bahwa kebudayaan tidak pernah hidup dalam ruang kosong. Adat Minahasa hari ini berhadapan dengan perubahan masyarakat, pendidikan, agama, media, negara, pasar, teknologi, dan gaya hidup generasi baru. Karena itu, pembicaraan mengenai adat tidak cukup jika hanya berhenti pada deskripsi bentuk. Yang lebih penting adalah bagaimana adat dibaca di dalam kehidupan yang terus berubah.

Bacirita sebagai ruang berpikir bersama

Istilah bacirita memberi warna tersendiri pada kegiatan ini. Bacirita bukan sekadar diskusi formal atau forum presentasi satu arah. Di dalam kata itu ada makna percakapan, perjumpaan, dan pertukaran pikiran. Orang datang bukan hanya untuk mendengar, tetapi untuk masuk ke dalam alur cerita, pengalaman, dan pemikiran yang dibagikan bersama.

Dengan demikian, Bacirita Mawale di Wale Papendangan dapat dipahami sebagai ruang untuk mempertemukan pengalaman hidup, ingatan kebudayaan, dan pembacaan kritis atas kenyataan Minahasa hari ini. Dalam ruang seperti itu, adat tidak hadir sebagai konsep yang beku. Ia menjadi bahan pembicaraan yang dekat dengan hidup: bagaimana orang memahami dirinya sebagai Tou Minahasa, bagaimana adat dipraktikkan atau dilupakan, dan bagaimana identitas dibentuk oleh relasi dengan lingkungan sosial yang lebih luas.

Adat sebagai pengetahuan hidup

Sering kali adat dipahami hanya sebagai upacara, simbol, pakaian, atau rangkaian aturan lama. Padahal adat jauh lebih luas dari itu. Di dalamnya terdapat cara pandang terhadap manusia, hubungan sosial, hubungan dengan tanah dan alam, sistem nilai, tata hidup, serta cara masyarakat mengatur dan memberi makna pada kehidupannya.

Karena itu, berbicara tentang adat Minahasa berarti berbicara tentang bagaimana sebuah masyarakat memahami dirinya sendiri. Adat bukan sekadar benda warisan. Ia adalah pengetahuan yang hidup dalam bahasa, kebiasaan, relasi kekeluargaan, cara bermusyawarah, cara menghormati orang lain, cara membaca alam, dan cara menempatkan manusia di tengah kehidupan bersama.

Namun pengetahuan seperti ini sering perlahan menjauh dari kehidupan sehari-hari. Modernisasi, perpindahan generasi, pendidikan formal yang tidak selalu memberi ruang bagi pengetahuan lokal, serta perubahan pola hidup telah membuat banyak unsur adat tidak lagi dipahami secara mendalam. Dalam situasi seperti itu, forum seperti Bacirita Mawale menjadi penting karena ia membuka ruang untuk kembali bertanya: apa yang masih kita pahami tentang adat, dan apa yang sesungguhnya mulai hilang dari ingatan kita?

Identitas yang terus dinegosiasikan

Tema identitas dalam konteks Minahasa juga bukan hal yang sederhana. Identitas tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu dibentuk dalam pertemuan dengan sejarah kolonial, agama, pendidikan, politik, modernitas, bahkan dengan cara orang luar memandang Minahasa.

Banyak orang menyebut dirinya Minahasa, tetapi apa makna penyebutan itu dalam kehidupan sehari-hari? Apakah identitas hanya berhenti pada asal-usul, nama keluarga, bahasa yang pernah didengar, atau simbol-simbol budaya tertentu? Ataukah identitas juga menuntut kesadaran yang lebih dalam tentang sejarah, pengetahuan, dan tanggung jawab terhadap kebudayaan itu sendiri?

Pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang menjadikan diskusi tentang identitas tetap relevan. Dalam masyarakat yang terus berubah, identitas sering kali mengalami penyederhanaan. Ia bisa direduksi menjadi slogan, ornamen, atau romantisme masa lalu. Padahal identitas yang hidup justru memerlukan keberanian untuk membaca kenyataan sekarang: bagaimana generasi muda memahami Minahasa, bagaimana kebudayaan diwariskan, dan bagaimana identitas tidak berhenti menjadi nama, tetapi menjadi cara berada di dunia.

Kontekstualitas: adat dalam zaman yang berubah

Salah satu kekuatan tema kegiatan ini adalah penekanan pada kontekstualitas. Kata ini mengajak orang untuk tidak memisahkan adat dari kondisi hidup yang nyata. Minahasa hari ini tidak sama dengan Minahasa seratus tahun lalu. Kampung berubah, lingkungan berubah, teknologi masuk ke hampir semua sisi kehidupan, bahasa daerah semakin jarang dipakai di banyak tempat, dan generasi muda tumbuh dalam arus media global yang sangat cepat.

Di tengah perubahan itu, adat sering berada dalam posisi yang sulit. Jika ia hanya dipertahankan sebagai simbol seremonial, ia berisiko kehilangan daya hidup. Sebaliknya, jika ia sepenuhnya ditinggalkan, masyarakat akan kehilangan salah satu sumber pengetahuan yang sebenarnya dapat menolong mereka membaca dirinya sendiri.

Karena itu, kontekstualitas mengajak untuk bertanya: bagaimana adat dibaca ulang supaya tetap berarti bagi kehidupan sekarang? Bagaimana nilai, prinsip, dan pengetahuan di dalam adat dapat dipahami kembali tanpa harus memaksanya menjadi salinan masa lalu? Dan bagaimana kebudayaan bisa berbicara kepada generasi hari ini tanpa kehilangan akar yang membentuknya?

Wale Papendangan sebagai rumah percakapan kebudayaan

Penyelenggaraan kegiatan ini di Wale Papendangan juga penting dicatat. Wale Papendangan bukan sekadar lokasi, tetapi bagian dari gagasan yang lebih besar tentang rumah sebagai ruang kebudayaan. Rumah di sini menjadi tempat orang berkumpul, belajar, berbicara, mendengar, dan memikirkan bersama berbagai persoalan yang berhubungan dengan Minahasa.

Dalam konteks itu, Wale Papendangan memberi bentuk konkret pada gagasan bahwa pendidikan kebudayaan tidak selalu harus berlangsung di ruang-ruang formal. Rumah dapat menjadi tempat tumbuhnya diskusi, sastra, penelitian, dokumentasi, seni, dan pertukaran pengetahuan. Ketika tema besar seperti adat dan identitas dibicarakan di sebuah rumah, percakapan menjadi lebih dekat dengan kehidupan. Ia tidak terasa sebagai wacana yang jauh dari masyarakat, tetapi sebagai sesuatu yang menyentuh pengalaman orang sehari-hari.

Kehadiran Mawale Movement dan PUKKAT dalam kegiatan ini juga memperlihatkan bahwa pembicaraan tentang Minahasa dibangun melalui jejaring. Kerja kebudayaan tidak dikerjakan oleh satu orang atau satu lembaga saja. Ia bertumbuh melalui pertemuan berbagai komunitas, gerakan, dan ruang belajar yang memiliki perhatian pada kebudayaan, pengetahuan lokal, serta kehidupan masyarakat.

Membaca Minahasa dari dalam

Kegiatan seperti Bacirita Mawale menjadi penting karena ia mengajak untuk membaca Minahasa dari dalam. Banyak pembicaraan tentang kebudayaan sering datang dari luar dan menggunakan kerangka yang tidak selalu dekat dengan pengalaman masyarakat sendiri. Sementara itu, forum seperti ini memberi ruang bagi pembacaan yang berangkat dari pergulatan, pengalaman, dan pertanyaan yang tumbuh dari dalam komunitas.

Membaca dari dalam bukan berarti menutup diri dari pengetahuan luar. Justru sebaliknya, ia memberi dasar yang lebih kuat agar masyarakat dapat berdialog dengan dunia tanpa kehilangan pijakan. Seseorang yang memahami adat, sejarah, dan identitasnya dengan lebih kritis akan lebih siap menghadapi perubahan, karena ia tidak berdiri dalam kekosongan.

Menjaga percakapan tetap hidup

Bacirita Mawale pada 4 Juni 2022 bukan hanya sebuah acara satu hari. Ia dapat dibaca sebagai bagian dari pekerjaan yang lebih panjang: menjaga agar percakapan tentang Minahasa tetap hidup. Kebudayaan tidak akan bertahan hanya dengan slogan atau perayaan sesekali. Ia membutuhkan ruang-ruang kecil maupun besar tempat orang kembali bertanya, kembali belajar, dan kembali menghubungkan pengalaman hari ini dengan pengetahuan yang diwariskan.

Tema “Minahasa: Adat, Identitas dan Kontekstualitas” menunjukkan bahwa pekerjaan tersebut memang tidak sederhana. Ia menuntut keterbukaan, kedalaman berpikir, dan keberanian untuk mengkritik diri sendiri. Tetapi justru di situlah nilai pentingnya. Kebudayaan yang hidup bukan kebudayaan yang hanya dipuji, melainkan kebudayaan yang terus dibaca, dipertanyakan, dan diperjuangkan agar tetap bermakna di tengah perubahan zaman.

Pada akhirnya, Bacirita Mawale di Wale Papendangan memperlihatkan bahwa membicarakan adat dan identitas bukanlah usaha untuk kembali hidup di masa lalu. Yang dicari adalah cara agar pengetahuan Minahasa tetap mempunyai daya hidup hari ini—di tengah generasi yang berubah, lingkungan yang berubah, dan dunia yang terus bergerak. Dalam pengertian itu, percakapan tentang adat, identitas, dan kontekstualitas bukan hanya pembicaraan tentang Minahasa, tetapi juga tentang bagaimana sebuah masyarakat menjaga kemungkinan untuk tetap mengenali dirinya sendiri.