Baku Dapa Mawale di Wale Papendangan: Membaca Kembali Jalan Panjang Bermawale
Pada Minggu, 14 Mei 2023, Wale Papendangan di Talikuran, Sonder, menjadi ruang pertemuan dalam kegiatan Baku Dapa Mawale dengan topik “Jalan Panjang Bermawale.” Pertemuan ini menghadirkan satu pertanyaan yang penting bagi perjalanan kebudayaan Minahasa: setelah sekian lama bergerak, bertemu, bekerja, dan membangun berbagai ruang kebudayaan, apa sebenarnya arti terus bermawale?
Istilah baku dapa sendiri memberi gambaran mengenai watak pertemuan tersebut. Orang datang bukan hanya untuk mengikuti sebuah acara, tetapi untuk bertemu kembali. Pertemuan menjadi kesempatan melihat wajah-wajah yang pernah berjalan bersama, mengingat pengalaman yang telah dilewati, dan membicarakan kembali gagasan yang mungkin telah berubah ketika berhadapan dengan zaman.
Tema “Jalan Panjang Bermawale” menempatkan Mawale bukan sebagai sesuatu yang selesai dirumuskan sekali untuk selamanya. Ia lebih dekat dengan sebuah perjalanan yang terus diperiksa. Ada pengalaman yang perlu diingat, gagasan yang perlu dipertanyakan kembali, dan pekerjaan kebudayaan yang perlu dilihat dari keadaan Minahasa hari ini.
Mawale sebagai perjalanan
Bermawale tidak cukup dipahami hanya sebagai kembali kepada sesuatu yang dianggap berasal dari masa lalu. Kembali ke rumah tidak berarti mengulang masa lampau secara utuh, seolah-olah kebudayaan tidak pernah berubah.
Rumah justru dapat menjadi tempat untuk melihat kembali apa yang diwariskan, memahami apa yang sedang terjadi, lalu menentukan bagaimana pengetahuan tersebut dapat digunakan untuk menghadapi kehidupan sekarang.
Dalam pengertian seperti itu, perjalanan bermawale selalu mempunyai dua arah. Ia melihat ke belakang untuk mengenali ingatan dan pengetahuan yang membentuk kehidupan Tou Minahasa, tetapi pada saat yang sama melihat ke depan untuk memahami perubahan yang sedang berlangsung.
Sebuah gerakan kebudayaan karena itu tidak cukup hanya berbicara mengenai identitas. Ia perlu bertanya bagaimana identitas tersebut bekerja dalam kehidupan nyata: dalam bahasa, pendidikan, seni, lingkungan, hubungan sosial, pengetahuan kampung, cara masyarakat membangun rumah, mengolah tanah, mengingat sejarah, dan merespons perubahan.
Mengingat tanpa berhenti pada nostalgia
Setiap perjalanan panjang menghasilkan cerita. Ada masa ketika orang berkumpul dengan energi yang besar, membangun kelompok, membuat pertunjukan, menulis, menerbitkan, melakukan diskusi, atau menciptakan ruang-ruang baru. Ada pula masa ketika sebagian kegiatan berhenti, orang berpindah tempat, dan bentuk gerakan berubah.
Mengingat perjalanan seperti itu penting, tetapi ingatan akan kehilangan daya jika hanya berubah menjadi nostalgia.
Pertemuan Baku Dapa Mawale dapat dibaca sebagai kesempatan untuk menggunakan ingatan secara lebih kritis. Apa yang pernah dilakukan dapat menjadi bahan untuk melihat apa yang masih relevan. Pengalaman masa lalu dapat membantu memahami kesalahan, keberhasilan, serta perubahan yang terjadi selama perjalanan.
Dengan cara itu, sejarah sebuah gerakan tidak ditempatkan sebagai cerita kejayaan. Ia menjadi bahan belajar.
Generasi yang datang kemudian tidak harus mengulang seluruh jalan yang pernah ditempuh. Mereka dapat membaca jejak sebelumnya, mengambil apa yang berguna, mengkritik apa yang perlu dikritik, dan menemukan bentuk kerja yang sesuai dengan persoalan zamannya.
Wale Papendangan sebagai ruang baku dapa
Pertemuan berlangsung di Wale Papendangan, sebuah rumah yang dalam perjalanannya digunakan untuk berbagai kegiatan kebudayaan, pendidikan, sastra, seni, dokumentasi, penelitian, dan percakapan.
Pilihan rumah sebagai tempat pertemuan mempunyai arti tersendiri.
Percakapan mengenai kebudayaan tidak selalu membutuhkan ruang yang besar. Sebuah rumah dapat menjadi tempat orang duduk berdekatan, berbicara tanpa jarak yang terlalu formal, mengingat pengalaman, menyampaikan perbedaan pendapat, dan menyusun gagasan baru.
Konsep seperti ini sangat dekat dengan gagasan Wale Papendangan mengenai rumah sebagai ruang belajar.
Pengetahuan tidak hanya berpindah melalui ceramah. Ia juga berpindah ketika orang baku dapa, bacirita, mendengar pengalaman orang lain, lalu mencoba menghubungkannya dengan kehidupan sendiri.
Dalam suasana seperti itu, sebuah diskusi dapat berlangsung lebih jauh daripada tema yang tertulis pada poster. Pengalaman pribadi, sejarah komunitas, persoalan kampung, perubahan sosial, hingga pertanyaan tentang masa depan kebudayaan dapat saling bertemu.
Bermawale dan perubahan zaman
Perjalanan kebudayaan tidak berlangsung dalam ruang yang tetap.
Cara masyarakat berkomunikasi berubah. Teknologi berubah. Kampung berubah. Penggunaan bahasa berubah. Bentuk pekerjaan berubah. Hubungan dengan tanah dan lingkungan juga mengalami tekanan baru.
Karena itu, makna bermawale tidak mungkin selalu sama.
Generasi sebelumnya mungkin menghadapi persoalan mengenai bagaimana menghidupkan kembali perhatian terhadap identitas dan sejarah Minahasa. Generasi berikutnya menghadapi persoalan tambahan: hilangnya bahasa, perubahan lingkungan, migrasi, media digital, perubahan pendidikan, serta semakin jauhnya sebagian masyarakat dari pengetahuan yang pernah hidup dalam keseharian kampung.
Situasi tersebut menuntut kerja kebudayaan yang berbeda.
Menghidupkan kebudayaan tidak cukup hanya melalui pertunjukan. Dokumentasi menjadi penting. Arsip menjadi penting. Buku menjadi penting. Film menjadi penting. Penelitian menjadi penting. Pendidikan anak-anak menjadi penting. Bahkan bagaimana sebuah komunitas menggunakan internet dan media sosial dapat menjadi bagian dari cara pengetahuan diwariskan.
Dengan demikian, jalan panjang bermawale selalu bergerak bersama perubahan zaman.
Dari gerakan menuju banyak ruang kebudayaan
Salah satu kekuatan sebuah gerakan adalah kemampuannya melahirkan banyak ruang.
Gagasan tidak harus terus berada di satu tempat atau berada di bawah satu bentuk organisasi. Ia dapat bergerak melalui komunitas, rumah kebudayaan, kelompok seni, penulis, pembuat film, kelompok masyarakat adat, sekolah, gereja, kampus, atau individu yang mengembangkan kerja sesuai konteks masing-masing.
Dalam perjalanan semacam itu, jejaring menjadi lebih penting daripada keseragaman.
Setiap ruang dapat mempunyai metode yang berbeda. Ada yang bekerja melalui sastra, ada yang melalui musik dan seni pertunjukan, ada yang melakukan penelitian, ada yang membangun pendidikan alternatif, dan ada pula yang menggunakan film serta dokumentasi.
Yang menghubungkan mereka adalah kesediaan untuk terus membaca kehidupan Tou Minahasa dan mempertanyakan bagaimana kebudayaan dapat memiliki daya hidup di tengah perubahan.
Wale Papendangan menjadi salah satu ruang yang tumbuh dari semangat tersebut.
Bertemu kembali untuk menentukan arah berikutnya
Baku dapa mempunyai fungsi yang sederhana tetapi penting. Ketika orang telah bekerja di tempat masing-masing, mereka membutuhkan kesempatan untuk kembali bertemu.
Pertemuan dapat memperbarui hubungan.
Ia juga dapat memperlihatkan bahwa jalan yang ditempuh tidak selalu sama. Ada perbedaan pengalaman, perubahan pemikiran, dan mungkin pula perbedaan pendapat mengenai bagaimana kerja kebudayaan harus diteruskan.
Perbedaan semacam itu tidak harus dianggap sebagai kelemahan.
Sebuah gerakan yang hidup justru membutuhkan kemampuan untuk mempertanyakan dirinya sendiri.
Pertanyaan mengenai “Jalan Panjang Bermawale” karena itu dapat diarahkan bukan hanya kepada masa lalu, tetapi juga kepada masa depan: apa yang akan dikerjakan setelah ini? Pengetahuan apa yang harus didokumentasikan? Bahasa apa yang semakin terancam? Siapa yang perlu mendapat ruang? Bagaimana generasi muda dapat ikut menentukan arah, bukan hanya menerima warisan yang sudah jadi?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut membuat perjalanan tetap terbuka.
Rumah, ingatan, dan perjalanan yang belum selesai
Baku Dapa Mawale pada 14 Mei 2023 menjadi salah satu catatan dalam perjalanan itu. Orang-orang kembali bertemu di sebuah rumah di Sonder dan menggunakan pertemuan tersebut untuk melihat jalan yang telah dilewati.
Wale Papendangan menjadi ruang bagi percakapan tersebut karena sejak awal rumah ini tidak dimaksudkan hanya sebagai tempat menyimpan kebudayaan. Ia menjadi tempat untuk membicarakannya, mempertanyakannya, mengujinya melalui karya, dan mempertemukannya dengan pengalaman baru.
Dalam konteks itulah istilah mawale memperoleh maknanya.
Kembali ke rumah bukan berarti berhenti berjalan. Sebaliknya, seseorang kembali agar dapat mengenali dari mana ia berangkat, memahami apa yang telah berubah, lalu menentukan ke mana perjalanan berikutnya akan diarahkan.
Jalan panjang bermawale karena itu belum selesai. Ia terus bergerak selama masih ada orang yang bersedia bertemu, mengingat, bertanya, bekerja, dan menciptakan kemungkinan baru bagi kehidupan kebudayaan Minahasa.
