ERA YANG TERUS BERUBAH

 


ERA YANG TERUS BERUBAH*

Oleh :

Fredy Sreudeman Wowor 

 Beberapa waktu yang lalu, aku mengunjungi sebuah warnet untuk mengupload sebuah tulisan yang diminta oleh seorang redaktur budaya di sebuah media di Sulawesi Utara.

Seperti biasa, selain untuk mengupload tulisan, aku juga biasa menyempatkan diri untuk mendownload buku-buku elektronik dan tulisan-tulisan paling baru terkait denga isu-isu yang lagi tren.

Aku sedang mencari buku “New Asian Hemisphere” karya Kishore Mahbubani, ketika tanpa sengaja aku mendengar beberapa orang pengunjung warnet tersebut bercakap.

Mereka bercakap-cakap tentang keuntungan yang baru saja didapatkan oleh teman mereka dari game on line. Teman mereka kini bisa memiliki sebuah telpon genggam merek yang paling baru dari keuntungan tersebut.

Keuntungan lain yang didapatkan adalah biaya setoran motor untuk satu bulan ke depan telah didapatkan jadi dia tidak perlu lagi bersusah payah baojek untuk mendapatkan uang.

Banyak  yang berubah disini, pikirku.

Orang-orang ini tidak lagi mengurus tanah dan lahan perkebunannya. Mereka lebih memilih bakredit motor dan baojek untuk bayar setoran.

Orang-orang ini memilih duduk dan memainkan kartunya dari sebuah ruangan berukuran 1 X 1 meter, sementara lawan bermainnya ada di sebuah belahan benua yang lain.

Setiap orang kini terikat pada simpul kesenangan dan keuntungan. Yang Jauh menjadi dekat dan yang dekat kian menjauh.

Ini sebuah era yang terus berubah – An Ever Changing Era.

Tapi apa yang menyebabkan setiap perubahan ini ?

Aku menyalakan sebatang rokok dan menikmati aroma cingkeh dan tembakau yang mengepul dalam setiap hirupan.

Aku teringat pada sepuluh tahun pertama di kisaran tahun 1500-an. Pulau rempah-rempah yang misterius berhasil ditemukan dan ditaklukan oleh para pedagang dan penakluk dari eropa barat.

Komoditi yang dahulunya sangat sukar didapatkan dan mahal harganya kini telah ditemukan sumbernya. Akhirnya setelah menunggu ribuan tahun, bangsa eropa berhasil memonopoli rempah-rempah dan sekalian menguasai dunia.

Apa yang bisa membawa bangsa-bangsa dari atas angin ini ke pulau-pulau di bawah angin ini ?

Jawabannya adalah perkembangan teknologi dan perkembangan teknologi ini adalah hasil dari adanya revolusi pengetahuan.       

Revolusi pengetahuan di eropa yang telah melahirkan penemuan-penemuan terbaru di segala lini seperti misalnya penemuan mesin cetak, kompas dan mesiu.

Penemuan – penemuan ini telah mendorong perkembangan teknologi pelayaran dan  memicu semangat pencarian dunia baru serta melahirkan slogan penaklukan : Glory, Gold, dan Gospel.

Pelayaran telah membawa benua-benua yang dahulunya jauh mendekat dalam cengkraman imperialisme dan kolonialisme eropa.  Di bawah cengkraman imperialisme dan kolonialisme eropa ini segalanya berubah.

            System barter yang sebelumnya mendasari hubungan perdagangan berubah menjadi system monopoli. System monopoli mendorong munculnya pabrik-pabrik dan pabrik-pabrik melahirkan system kapitalisme.

            Aku terus menghisap rokok yang terselip di sela jemari.

Perkembangan teknologi pelayaran di kisaran tahun 1500-an ini menurutku  pada prinsipnya tak ubahnya dengan penemuan teknologi informasi di zaman ini. Keduanya telah mendekatkan daerah yang dahulunya tak bisa dijamah.

            Apa yang bisa dipelajari dari kenyataan ini ?

            Kedatangan orang-orang dari atas angin (baca : eropa) ini, dahulu telah membawa pengetahuan terkini pada zaman itu ke orang-orang di bawah angin. Pengetahuan ini yang secara potensial juga telah mendorong kesadaran intelektual baru yang membangun peradaban hari ini.

Jadi sekarang pun, kita bisa belajar untuk meningkatkan daya hidup dan membangun peradaban di zaman ini seperti yang dahulu dilakukan oleh para leluhur kita.

            Pertanyaannya adalah apa pokok pegangan kita hari ini hingga bisa bertahan dalam setiap perubahan ?

            Aku meninggalkan warnet sambil memandangi jalan kampungku yang kini telah beraspal beton. Beberapa ratus tahun yang lalu, jalan ini cuma jalan setapak dari tanah. Jalan yang melandasi tradisi pasar ron.

Pertanyaan itu masih terus saja meminta jawabannya.

Aku tiba-tiba terpaku di jalanan itu. Jalan ini kini telah berubah dari jalan setapak beralaskan tanah menjadi jalan beraspal beton tapi jalan ini masih jalan yang sama. Jalan yang kami tapaki.

Jalan adalah apa yang engkau tapaki, demikian sebuah ungkapan dari para bijak di masa lalu.

Aku lanjutkan langkahku menuju rumah.

Satu-satunya pilihan untuk menghadapi tantangan perubahan yang tak menentu  adalah bertahan pada sebuah ketetapan.

Dalam situasi ekonomi yang penuh perubahan di zaman ini, setiap orang harus berpegang pada keunikannya masing-masing.

Pengetahuan  akan keunikan ini didasarkan pada pengenalan yang mendalam terhadap sesuatu yang kita akrapi.

Keakrapan kita pada sesuatu hal yang tertentu ini akan menjadikan kita tidak akan dicampakkan dengan gampang oleh system yang sangat akumulatif.

Mengelola keunikan adalah kiat hidup di era yang penuh perubahan.

Soalnya bukan lagi yang local akan mengglobal atau yang global akan melokal.

Tapi kita adalah salah satu titik pusat dimana hidup bisa berkembang. 

 

 

*  Disampaikan dalam diskusi panel “Serunya Bisnis On line” STIE SULUT Manado 27 Januari 2012

** Dosen tetap di Fakultas Sastra UNSRAT Manado