Fredy wowor dalam film Karya Natasha Tontey

Fredy Sreudeman Wowor dalam Of Other Tomorrows Never Known karya Natasha Tontey
Fredy Sreudeman Wowor dalam Of Other Tomorrows Never Known, karya Natasha Tontey.
WALE PAPENDANGAN · SENI KONTEMPORER · FILM · PERTUKARAN PENGETAHUAN

Fredy Wowor sebagai Makatana: Dari Wale Papendangan ke Of Other Tomorrows Never Known

Sebuah perjalanan dari ruang pertemuan di Sonder menuju karya Natasha Tontey yang mempertemukan kosmologi Minahasa, seni kontemporer, teknologi, leluhur, dan imajinasi tentang masa depan.

Pertemuan antara pengetahuan Minahasa dan seni kontemporer tidak selalu dimulai di museum, kampus, atau institusi kesenian besar. Kadang-kadang ia dimulai dari sebuah rumah: dari orang-orang yang duduk bersama, bertukar cerita, mencoba gerak, mempertanyakan pengetahuan, dan membuka kemungkinan penciptaan yang sebelumnya belum diketahui.

Salah satu pertemuan semacam itu pernah berlangsung di Wale Papendangan, Sonder, ketika seniman Natasha Tontey melakukan proses dan workshop bersama sejumlah orang dan kelompok kebudayaan Minahasa.

Dalam catatan Wale Papendangan, proses tersebut mempertemukan Natasha Tontey dengan Fredy Sreudeman Wowor, Man Kun Liu dari China, Kawasaran Sumonder, dan Kawasaran Wulan Lengkoan.

Pertemuan itu menjadi ruang untuk melihat bagaimana tubuh, Kawasaran, pengetahuan Minahasa, ingatan, ritual, dan pengalaman kontemporer dapat masuk ke dalam percakapan dengan praktik seni yang berkembang hari ini.

Dalam perjalanan artistik Natasha Tontey berikutnya, hubungan dengan pengetahuan dan orang-orang Minahasa tersebut berkembang dalam berbagai bentuk. Salah satu karya penting yang lahir dari perjalanan itu adalah Of Other Tomorrows Never Known.

WALE PAPENDANGAN WORKSHOP & PERTEMUAN PERTUKARAN PENGETAHUAN PROSES ARTISTIK OF OTHER TOMORROWS NEVER KNOWN

Wale Papendangan sebagai Ruang Pertemuan

Bagi Wale Papendangan, penting untuk mencatat proses yang terjadi sebelum sebuah karya tampil di festival, museum, atau ruang seni.

Ada percakapan. Ada orang yang membawa pengetahuan. Ada pelaku seni tradisi. Ada seniman yang datang dengan pertanyaan. Ada tubuh yang mencoba bergerak. Ada cerita yang dibagikan. Dan ada hubungan yang dibangun dari pertemuan tersebut.

Workshop bersama Natasha Tontey menjadi salah satu pengalaman yang memperlihatkan fungsi Wale Papendangan sebagai rumah yang dapat menjadi ruang penelitian, percakapan, eksperimen, dan penciptaan seni.

Kawasaran dalam proses semacam ini tidak hanya hadir sebagai tontonan atau bentuk visual yang dapat dipinjam. Ia membawa sejarah, tubuh, bunyi, pengalaman, hubungan sosial, pengetahuan, serta pemaknaan masyarakat yang hidup bersamanya.

Karena itu, pertemuan antara seni tradisi dan seni kontemporer membutuhkan percakapan dengan orang-orang yang membawa pengetahuan tersebut.

Sebuah rumah dapat menjadi laboratorium kebudayaan: tempat seni tradisi bertemu seni kontemporer, pengetahuan lokal bertemu pengalaman dari luar, dan percakapan membuka kemungkinan penciptaan baru.

Of Other Tomorrows Never Known

Of Other Tomorrows Never Known adalah karya Natasha Tontey tahun 2023. Film pendek eksperimental ini diproduksi oleh New Pessimism Studio dan menampilkan Fredy Sreudeman Wowor bersama Muchlis Mustafa.

Karya tersebut bergerak di antara film, seni kontemporer, fiksi spekulatif, kosmologi Minahasa, ritual, teknologi, dan pertanyaan mengenai hubungan manusia dengan makhluk serta dunia lain.

Singapore Art Museum membaca karya tersebut dalam hubungan dengan pertanyaan Natasha mengenai bagaimana masyarakat Minahasa berhubungan dengan teknologi, praktik keseharian, dan kepercayaan yang sering diletakkan dalam wilayah mistis.

Teknologi dalam karya ini tidak hanya berarti mesin, komputer, atau perangkat modern. Ia dapat dibaca lebih luas sebagai cara manusia membangun hubungan, berkomunikasi, merawat, menyembuhkan, dan berhubungan dengan sesuatu di luar dirinya.

Karlovy Vary International Film Festival juga menempatkan Of Other Tomorrows Never Known sebagai karya yang tumbuh dari kosmologi Minahasa dan mempertemukan ritual dengan speculative fiction.

Dalam dunia yang dibangun Natasha Tontey, masa lalu dan masa depan tidak berdiri sebagai dua tempat yang terpisah. Leluhur dapat hadir dalam percakapan tentang masa depan, sementara teknologi dapat dibaca kembali melalui kosmologi, ritual, tubuh, dan hubungan antarmakhluk.

Fredy Wowor Menjadi Makatana

Fredy Sreudeman Wowor tidak tampil dalam film hanya sebagai dirinya sendiri. Ia memainkan tokoh bernama Makatana.

Dalam uraian karya untuk pameran Green Snake, Makatana digambarkan sebagai figur kosmik yang mempunyai hubungan dengan tanah serta penghuni manusia dan nonmanusia di dalamnya.

Dalam dunia spekulatif film, Makatana mempunyai kemampuan penyembuhan dan melakukan perjalanan untuk menyembuhkan seorang manusia. Perjalanan itu kemudian berkembang menjadi lintasan menuju kemungkinan waktu dan dunia lain.

Di titik inilah kehadiran Fredy menjadi menarik.

Fredy selama bertahun-tahun bergerak dalam wilayah kebudayaan, sastra, pendidikan, penelitian, dan berbagai percakapan mengenai Minahasa. Dalam karya Natasha Tontey, pengalaman tersebut memasuki medium yang berbeda.

Tubuhnya menjadi bagian dari imajinasi film.

Pengetahuan yang biasanya hadir melalui diskusi atau tulisan bertemu dengan performans, suara, gambar, kostum, lanskap, cahaya, dan sinema.

Makatana kemudian hidup di antara dunia pengetahuan Minahasa dan dunia fiksi spekulatif yang dibangun oleh film.

Bukan Berangkat sebagai Aktor

Ada sisi penting dari keterlibatan Fredy yang kemudian ia ceritakan dalam diskusi film di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sam Ratulangi pada Februari 2024.

Menurut pemberitaan mengenai kegiatan tersebut, Fredy mengatakan bahwa menjadi aktor bukan sesuatu yang sebelumnya ia rencanakan.

Ia sempat terkejut ketika mendapat peran dalam karya Natasha. Proses memainkan karakter justru membuatnya harus memasuki cara berimajinasi yang berbeda.

Hal tersebut membuat posisi Fredy di dalam film menarik untuk dibaca lebih jauh.

Ia tidak memasuki film terutama dari jalur aktor profesional. Ia membawa pengalaman lain: kebudayaan, sastra, pengetahuan Minahasa, percakapan komunitas, dan proses panjang membaca kehidupan di tempat ia berada.

Dalam karya Natasha Tontey, pengalaman itu bertemu dengan bahasa seni kontemporer dan speculative fiction.

OF OTHER TOMORROWS NEVER KNOWN

Tahun: 2023
Seniman/Filmmaker: Natasha Tontey
Produksi: New Pessimism Studio
Pemeran: Fredy Sreudeman Wowor sebagai Makatana, bersama Muchlis Mustafa.

Karya bergerak di antara film eksperimental, fiksi spekulatif, kosmologi Minahasa, ritual, teknologi, dan hubungan manusia–nonmanusia.

Dari Pertemuan menuju Hubungan yang Lebih Panjang

Hubungan Natasha Tontey dengan orang-orang dan lingkungan pengetahuan Minahasa tidak berhenti pada satu pertemuan atau satu produksi.

Dalam materi yang diterbitkan LAS Art Foundation untuk proyek-proyek Natasha berikutnya, Fredy Sreudeman Wowor masih tercatat sebagai salah satu research partners.

Wale Papendangan Sonder dan Kawasaran Wulan Lengkoan juga disebut dalam jejaring orang dan komunitas yang terhubung dengan proses tersebut.

Catatan ini penting karena memperlihatkan bahwa pertemuan antara seniman dan komunitas tidak selalu harus dibaca sebagai hubungan singkat ketika sebuah karya sedang diproduksi.

Ia dapat berkembang menjadi proses pertukaran pengetahuan yang berlangsung lebih panjang.

Dari Minahasa ke Ruang Internasional

Setelah selesai, Of Other Tomorrows Never Known bergerak ke berbagai ruang film dan seni.

Film tersebut melakukan world premiere dalam kompetisi film pendek Asia Tenggara pada 34th Singapore International Film Festival pada 2023.

Film kemudian hadir pula dalam berbagai konteks festival dan pameran internasional, termasuk Karlovy Vary International Film Festival.

Perjalanan karya tersebut membuat sesuatu yang tumbuh melalui hubungan panjang Natasha dengan Minahasa memasuki percakapan yang jauh lebih luas mengenai teknologi, leluhur, ekologi, tubuh, kehidupan nonmanusia, dan masa depan.

Fredy Wowor Menerima Best Performance

Pada 34th Singapore International Film Festival, Fredy Sreudeman Wowor menerima penghargaan Best Performance dalam Silver Screen Awards untuk penampilannya dalam Of Other Tomorrows Never Known.

Penghargaan tersebut berada dalam Southeast Asian Short Film Competition.

Karena itu, penyebutan yang tepat bukan bahwa Fredy memenangkan “Silver Award”, melainkan Best Performance pada Silver Screen Awards, 34th Singapore International Film Festival 2023.

Dari Sonder, seorang budayawan memasuki sebuah karya eksperimental, memainkan Makatana, dan membawa tubuh serta pengalaman kebudayaannya ke dalam sebuah film yang kemudian bergerak di ruang seni dan film internasional.

Masa Depan Tidak Harus Meninggalkan Leluhur

Salah satu hal paling menarik dari Of Other Tomorrows Never Known justru bukan penghargaan atau perjalanan festivalnya.

Karya ini mengajukan sebuah pertanyaan yang lebih besar: apakah masa depan harus selalu dibayangkan dengan meninggalkan pengetahuan lama?

Dalam karya Natasha Tontey, kemungkinan lain terbuka.

Pengetahuan leluhur tidak harus ditempatkan hanya di masa lalu.

Waruga tidak harus berhenti sebagai benda arkeologis.

Ritual tidak harus dibaca hanya sebagai peninggalan.

Kosmologi tidak harus menjadi cerita tua yang terpisah dari persoalan kontemporer.

Semua itu dapat memasuki percakapan mengenai teknologi, tubuh, kecerdasan buatan, ekologi, penyembuhan, hubungan manusia dengan nonmanusia, serta bentuk-bentuk kehidupan yang mungkin hadir pada masa depan.

Dalam Of Other Tomorrows Never Known, masa depan justru dibayangkan dengan membawa leluhur kembali masuk ke dalam percakapan.

Wale sebagai Tempat Kemungkinan Dimulai

Bagi Wale Papendangan, salah satu bagian terpenting dari perjalanan ini berada pada proses pertemuan.

Sebelum film bergerak ke festival, sebelum Makatana hadir di layar, dan sebelum sebuah penghargaan diberikan, terdapat orang-orang yang bertemu, bertanya, berbagi pengetahuan, mencoba, berdiskusi, dan bekerja bersama.

Di sinilah gagasan rumah sebagai pusat kebudayaan memperoleh bentuk yang konkret.

Rumah tidak harus menjadi institusi besar untuk menghasilkan pertemuan yang berarti.

Sebuah rumah dapat menjadi tempat orang Minahasa bertemu seniman dari tempat lain.

Ia dapat menjadi tempat Kawasaran bertemu seni kontemporer.

Ia dapat menjadi tempat pengetahuan lokal memasuki percakapan mengenai teknologi dan masa depan.

Dan sebuah percakapan yang dimulai di rumah dapat bergerak jauh melampaui rumah itu sendiri.

Perjalanan Fredy Wowor dalam karya Natasha Tontey memperlihatkan salah satu kemungkinan tersebut.

Fredy menjadi Makatana. Makatana memasuki film. Film bergerak dari Minahasa menuju berbagai ruang seni dan sinema internasional.

Tetapi perjalanan itu mengingatkan bahwa kebudayaan memperoleh daya hidup bukan hanya ketika ia dijaga sebagai peninggalan.

Kebudayaan hidup ketika ia terus dibaca, dipertanyakan, dipraktikkan, dipertemukan dengan pengalaman lain, dan digunakan untuk membayangkan kemungkinan baru.

Rumah menjadi ruang belajar.
Pertemuan menjadi penelitian.
Pengetahuan menjadi penciptaan.
Tradisi bertemu eksperimen.

Dan kebudayaan tidak hanya berbicara tentang masa lalu — ia ikut membayangkan masa depan.
Wale Papendangan · Fredy Sreudeman Wowor · Fredy Wowor · Natasha Tontey · Of Other Tomorrows Never Known · Makatana · Kawasaran Sumonder · Kawasaran Wulan Lengkoan · Man Kun Liu · Minahasa · Seni Kontemporer · Film · SGIFF · Literasi Budaya