HAKEKAT KEARIFAN PARA TETUA ADALAH SOAL CARA BERPIKIR
HAKEKAT KEARIFAN PARA
TETUA ADALAH SOAL CARA BERPIKIR
Waktu masih
kanak-kanak, kita tentu pernah mendengar mama atau papa berkata demikian,
“anak-anak jang dulu makang tu hati, anak-anak bagus makang tu kaki” atau “jang
dulu makang tu kapala, blajar dulu bamakang tu ekor”,atau “jangan kase biasa
dudu di atas bantal, nanti bisul tumbuh di panta”.
Hari ini,
perkataan-perkataan orang tua tersebut pasti kedengaran menggelikan karena
tentu saja bagian-bagian yang dilarang oleh orang tua itu ternyata adalah
bagian-bagian yang paling sedap.
Hal ini menyebabkan
lahirnya pendapat bahwa orang tua kita ternyata cendrung tidak mendidik dalam
nasihatnya malah lebih banyak membodohi kita di kala kita masih kanak-kanak.
Pertanyaannya sekarang
apakah hal ini memang demikian adanya?
“lo’moten eng kanen
karapi i pekua”, demikian salah satu ungkapan para tetua. Artinya : “telanlah
makanan bersama dengan petuah”.
Bertolak dari sari pati
pepatah para tetua ini, soal makan menurutku, bukanlah sekedar menelan makanan
untuk memenuhi hasrat dari rasa lapar. Soal makan bukan Cuma soal pemenuhan
kebutuhan yang bersifat jasmani belaka tapi justru menyangkut juga soal
spiritual.
Proses makan mengandung
makna spiritual karena menurutku dalam kegiatan di seputar meja makan ini
berlangsung kegiatan pendidikan. Kegiatan pendidikan ini bertujuan mengajar
kita memaknai aktivitas hidup kita untuk bertumbuh menjadi manusia.
Larangan yang sekarang
terdengar konyol, tidak mendidik, tak masuk akal dan bersifat membodohi, justru
mengandung makna yang sangat mendalam yang butuh kita renungkan terus menerus
sepanjang hidup kita seperti layaknya makanan yang terus kita makan untuk
menunjang pertumbuhan hidup kita.
Petuah orang tua agar
kita jangan dulu memakan bagian kepala dan anjuran untuk blajar makang ekor ini
mengajar kita untuk melihat kebisaan mahluk hidup yang dikenal sebagai ikan.
Ekor bagi ikan adalah symbol dari gerak yang menunjang keberadaan ikan dalam
melintasi air. Tanpa ekor, ikan akan kehilangan hakekat hidupnya. Tanpa ekor,
ikan tak dapat bergerak ke depan. Tanpa ekor, ikan akan terseret ke dasar air,
kehilangan daya gerak dan mudah menjadi mangsa dari ikan yang lain.
Adapun larangan untuk
tidak terburu-buru memakan hati misalnya hati ayam dan anjuran untuk memakan
kakinya lebih dahulu, bagi orang minahasa mengandung pelajaran bagi kita untuk
meresapi keuletan ayam yang sebelum matahari muncul telah mulai melakukan
aktivitas untuk mencari makan. Proses pencarian makanan yang dilakukan oleh
ayampun bukanlah sekedar proses membuta saja tapi justru dilakukan dengan
membuat pilihan. Ini bisa dilihat dari aktivitas dari ayam yang dengan teliti
menggerakan cakarnya untuk memilih apa yang bias dimakannnya. “reica tumawoy,
reica kuman”, demikian petuah para bijak. Artinya : tidak bekerja, tidak makan.
Duduk di atas bantal
menyiratkan ajaran bahwa kita sebaiknya tau apa susahnya hidup, agar kita bisa
memahami apa makna dari kesenangan itu. Dasar dari tempat duduk yang keras dan
tidak halus seperti bantal menyiratkan makna bahwa kita musti selalu siap
sedia, waspada dan bertumpuh di dasar yang teguh. Tidak mudah larut dalam
kesenangan sekejap apalagi cari gampang. Seperti kata pepatah,”sa mawawo ing
tumulung, taneien mio tambisa I cawekel” artinya “ kalu mo badiri di atas,
piker juga bagimana kalu mo taplaka”.
Dari soal makan sampai
soal istirahat ini, kita belajar bahwa orang tua kita memberikan petunjuk untuk
melihat segala sesuatu tidak sekedar pada kenyataan factual yang kasat mata
saja atau lahiriahnyanya saja, tapi justru menunjukan pengertian untuk bisa
melihat arti di balik setiap kenyataan tersebut.
Apa yang bisa kita
maknakan dari kenyataan ini adalah hakekat kearifan para tetua adalah soal cara
berpikir. Soal cara berpikir ini mewujud pada pola tindak. Pola tindak itulah
makna “bisa” yakni arti dari setiap kabolehan. Inilah sebabnya lahir ungkapan :
“samua ada depe
masing-masing”
“samua ada depe
tiap-tiap”
“masing-masing ada depe
tiap-tiap”
“samua ada depe bisa”
Soal melihat arti
adalah soal menemukan makna dan soal menemukan makna adalah soal mengartikan
bisa.
Arti setiap bisa adalah
hakekat cara berpikir.
.png)