HIDUP SEBAGAI SUMBER KEHIDUPAN
HIDUP SEBAGAI SUMBER KEHIDUPAN
Karya : Fredy
Sreudeman Wowor*
CERITA DARI
DENI PINONTOAN
Pada
suatu hari di Mainz Jerman.
W.A. Roeroe menemui promotornya di Fakultas
Teologi Universitas Johannes Gutenberg.
Dia menemui promotornya untuk menunjukan
bagian akhir dari disertasinya tentang peranan para tua-tua dalam naskah-naskah
perjanjian lama. Bagian akhir dari disertasinya ini membahas tentang peranan
para tua-tua di Minahasa khususnya daerah Tombulu.
Pembahasan tentang peranan para tua-tua
minahasa ini dilakukan untuk memahami peranan tua-tua di Gereja Masehi Injili
Minahasa sebagai perbandingan dengan peranan para tua-tua dalam naskah
perjanjian lama.
Promotor itu kemudian mengajukan sebuah
pertanyaan, setelah selesai membaca bagian tersebut.
“ Mana sumber yang menjadi rujukan
untuk bagian ini ?”
“ Maksud Profesor?”.
“ Ini disertasi. Ini adalah karya
ilmiah dan karya ilmiah harus ada sumber yang menjadi rujukannya”. Lanjut sang
promotor.
“ Tapi untuk pokok bahasan ini,
belum ada tulisan yang khusus membahasnya, Prof.” Demikian jawab W.A.Roeroe.
“ Ini tidak bisa, Welly. Harus ada
referensi yang menjadi bukti untuk mempertanggungjawabkan keilmiahannya. Kalau
bagian ini tidak ada referensinya, disertasi
kamu bisa ditolak..”
“ Aku bisa mempertanggungjawabkan
keilmiahannya.”
“ Bagaimana caranya?”
“ Aku hidup di minahasa. Aku orang
minahasa. Aku hidup dalam kultur minahasa. Aku dibesarkan dalam masyarakat yang
alam berpikirnya terkandung konsep tentang tua-tua.”
Akhirnya setelah mendengar penjelasan
dari sang mahasiswa, profesor itu pun memberikan persetujuannya.
“ Ok, tapi kamu harus mempersiapkan
argumentasi ini dengan sebaik-baiknya, untuk membuktikan pendapatmu dalam ujian
nanti.” Demikian tegas promotornya.
Alhasil dari ujian disertasi ini adalah seorang
doktor teologi baru di Universitas Johannes Gutenberg Jerman.
DR. Wilhelmus Absalom Roeroe dari
Kaskasen Tomohon.
AKHIR CERITA
SEBAGAI PERMULAAN MENGADA
Apa
yang bisa kita artikan dari cerita ini adalah Pengalaman Hidup Setiap Orang dalam
hal ini Setiap Tou Minahasa bisa menjadi
Sumber Pengetahuan dan Landasan bagi Pertanggungjawaban ilmiah dalam sebuah penelitian.
Berdasarkan kenyataan akan keberadaan dirinya sebagai
manusia dan pengalaman hidup dibesarkan dalam tradisi dan kebudayaan minahasa
khususnya sebagai turunan tombulu di kaskasen, W.A.Roeroe memberikan bukti
nyata yang menjadi bahan “pertanggungjawaban ilmiah” atas penelitiannya tentang
peranan tua-tua di Minahasa sebagai bagian
dari disertasinya tentang peranan tua-tua di perjanjian lama.
Setiap orang adalah narasumber yang
hidup dalam perjalanan kehidupan ini. Pengalaman hidup kita ibarat tulisan yang
tercatat dalam bab-bab di setiap lembaran abadi dari buku kehidupan.
Catatan ini bila kita tinjau kembali
akan menjadi titik pijak untuk melakukan lompatan transformatif yang akan
mengubah cara pandang kita akan hidup itu sendiri hingga arti dari menjadi
manusia itu dapat menemukan maknanya.
Pemahaman yang tersirat dari
kenyataan bahwa setiap manusia adalah sumber abadi dari pengertian akan
kehidupan tersurat dengan jelas dalam kata pengantar yang ditulisnya pada buku
“PERANAN PARA TUA-TUA DALAM NASKAH-NASKAH PERJANJIAN LAMA” :
“
Kita memulaikan dulu pekerjaan kita dengan segala sesuatu yang ada pada kita.
Dengan memahami dasar-dasar dan prinsip-prinsip orisinal cara kerja ilmiah dan
atau metodologi kerjanya yang hendak menanggulangi permasalahan (teologis) di
depan kita yang memang bertumpuk banyaknya dan dengan menggunakan segala
fasilitas (yang mungkin baru sederhana) yang ada. Kita mulai dulu dengan menat,
bakat, talenta, tekad, kemampuan, daya nalar, kemandirian dan ketrampilan serta
kecekatan kita sambil menggunakan kekayaan nilai-nilai kebudayaan warisan para
pendahulu kita kepada generasi kita masa kini untuk memulaikan, menciptakan dan
menyamai mereka yang berada di tempat lain. Mereka disana juga mulai dengan
begitu lalu makin lama makin meningkatkan dan memperkembangkannya hingga pada
taraf kecanggihan. Kita tidak perlu merasa terbelakang atau ketinggalan apalagi
kecil hati dalam hal ini. Tetapi tidak perlu juga dengan sikap ketinggian hati,
melainkan dengan kemandirian dan percaya diri sebagai ciptaan Maha Tuhan.” (Roeroe,W.A.
2008 : vii).
Catatan permenungan ini dikemukakannya
sebagai tanggapan atas pendapat :
“kalau seharusnya menulis disertasi
dengan cara begini sambil harus menggunakan segala fasilitas termasuk
kepustakaan seperti yang didaftarkan di belakang tulisan ini, mana mungkin kita
disini, yang tidak memilikinya dapat dan sanggup juga mengerjakan penulisan
disertasi ? Manalagi diperhadapkan dengan kenyataan keterbatasan khususnya dana
untuk pelaksanaannya. Hanyakah dengan berkesempatan untuk bepergian ke manca
Negara atau ke luar daerah dulu baru bole kita berhasil dan menggondolnya?” (Roeroe,W.A.
2008 : vi).
Pendapat yang dikatakan kepadanya, pada waktu sementara menyelesaikan penulisan
terjemahan disertasi tersebut ke dalam bahasa Indonesia.
MENGADA UNTUK
MENJADI ORANG
Bila kita telusuri kembali pengalaman
studi dan pokok pemikiran yang dikemukakan oleh W.A.Roeroe, dari seorang
mahasiswa yang berusaha menyelesaikan proses belajarnya di fakultas teologi Universitas
Johanes – Gutenberg Jerman, hingga menjadi profesor dan direktur program pasca
sarjana di fakultas teologi Universitas Kristen Indonesia Tomohon, maka akan
kita temukan adanyanya keselarasan dari pemahaman akan “pengalaman” yang
menjadi “sumber pengetahuan” dan “pengetahuan” yang menjadi “sumber pengalaman”.
Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa
berdasarkan refleksi akan pengalaman hidupnya sebagai Tou Minahasa, W.A.Roeroe
kemudian mengemukakan pokok pemikiran tentang keberadaan para tetua dan
peranannya dalam kehidupan orang minahasa dan berdasarkan hasil refleksi
berwujud pengetahuan akan peran tua-tua di minahasa ini, dia memberikan landasan
pemikiran bagi setiap orang yang ingin mempelajari tentang keberadaan kehidupan
minahasa untuk berani memulainya dari pengenalan akan keberadaan dirinya
sebagai tou minahasa dan dalam lingkup yang lebih luas dia mendorong setiap
manusia untuk memulai usaha berpengetahuan dari kesadaran akan pengenalan
kembali jatidirinya.
Pengenalan kembali akan jatidiri
mengisyaratkan adanya pemahaman yang mendalam akan lingkungan dimana seseorang
hidup. Pemahaman mendalam akan lingkungan dengan sendirinya mengisyaratkan
adanya interaksi dan proses penyatuan dengan alam yang kemudian menghadirkan
pengertian akan adanya kuasa yang mengatasi segala yang dikenal sebagai Empung
Wailan Wangko.
Pada akhirnya proses pengenalan jatidiri
ini mengantar kita untuk mengenal Sang Pencipta. Dan pengenalan akan Sang
Pencipta adalah permulaan pengetahuan.
Dalam ujar-ujar para leluhur,
Tou Ya Tanu Tawaang,
Tambisa Sia An Dangka,
Tanitu Sia an Darem”
Artinya
Manusia ibarat Tawaang,
Dia bertumbuh
Dan Mengakar.
Sebagai Dia yang bertumbuh dan mengakar,
manusia adalah benih abadi. Benih yang mengandung daya hidup itu sendiri dan darinya
bertunas kehidupan yang baru.
Sebuah benih yang bertunas (=batona) dan
batuur (=bapokok) adalah pembuka jalan
bagi pertumbuhan pohon-pohon suci yang akan melahirkan rimba belantara yang
menyimpan air kehidupan.
Pada titik ini, dari seorang “Tou”, W.A.Roeroe
telah menjadi seorang “Tonaas”.
Seorang yang menjadi pembuka jalan,
pendahulu, pemuka, pelopor, pemimpin, pembimbing, pemandu dan teladan hidup.
Dia menjadi seorang Tetua.
MENJADI ORANG
MENJADI TELADAN HIDUP
Seorang tetua adalah sebuah penghargaan
yang diberikan oleh orang minahasa untuk seseorang yang telah berhasil
menemukan arti jati dirinya dan menjadi orang.
Seorang tetua adalah dia yang
dituakan. Dia adalah teladan hidup. Dia tidak harus seorang yang tua. Dia bisa
saja seseorang yang masih muda yang dituakan karena pengetahuannya akan hal
tertentu tapi dia bisa juga adalah orang yang telah berumur yang memiliki
pemahaman akan ikhwal kehidupan karena pengalaman yang didapatkan selama
hidupnya.
I PA TU TUA IM PELE PELENG,
I PA TU TUA IM BAYA WAYA,
Demikian “Ta’ar E Matua” atau “Pesan
Para Leluhur”.
Artinya :
Hormatilah yang Tua,
Hormatilah yang Tau :
Berkata “Ber” yang Tua,
Berkata “Ber” yang Tahu.
Seorang tetua adalah dia yang dinamai
“Si Pahendontua – Pahndontua”. Dia juga dinamai “Si Pamatuan”. Pemimpin dari
para tua-tua. Dialah yang dipanggil dengan sebutan “si Capala”.
Seorang tetua adalah pemimpin yang
dilihat oleh masyarakat sebagai pemuka, dialah “si puupuna, si mahpuuna, si
tuu-tuuzan”. Seorang tetua adalah dia
yang menjadi wakil rakyat yang berunding untuk membahas segala hal yang
berhubungan dengan kesejahtraan dan keselamatan rakyat dan berdasarkan
keputusan perundingan ini, ia membimbing masyarakat dalam segala hal hingga masyarakat dapat menikmati
serba kecukupan dalam makanan,air, perkebunan, dan perumahan. Dia seumpama seorang
gembala. Dia disebut juga “si menonoro atau si mahweteng”.
Seorang tetua adalah dia yang juga
mengurus, mengadili perkara-perkara dan menjadi pemegang, pemelihara segala
peraturan serta ketentuan hidup. Dia dipanggil sebagai “si ukung um banua”.
Seorang tetua adalah dia yang
mengajarkan segalah hikmat dan kebijaksanaan hidup. Dia dikenal sebagai “si
kere-kerean”.
Sebagai seorang pelindung dan penjaga
keamanan serta pengatur kampung, seorang tetua menjadi “si sizang atau si
suleng um banua”. Dia juga menjadi “si mahwali-wali” atau komandan dalam
mengejar para pengacau dan penyerang keamanan.
Dialah “si walian” yang memimpin rakyat
dalam membawa persembahan, menyanyi,menari dan memuja yang harus dipujanya
dalam ibadah.
Seorang tetua adalah seorang petugas
bagi rakyat dan pemukimannya. Dialah “si lukaz um banua”. (Roeroe,W.A. PERANAN PARA TUA-TUA DALAM NASKAH-NASKAH
PERJANJIAN LAMA. 2008:380-381).
Seorang tetua pada akhirnya adalah
seorang teladan yang menjadi patokan hidup bagi tou minahasa untuk memberi
pemaknaan bagi arti dari hidupnya.
SEBUAH PETUAH
UNTUK PERUBAHAN
KALU
DIA BOLE, NGANA LEI BISA !
Demikian petuah para leluhur yang selalu
menggema dalam kenangan akan masa kanak yang dikatakan untuk menggugah semangat
setiap tou minahasa di tana Toar dan Lumimuut ini agar dapat berusaha mengubah
pembatasan dan melampaui ketertinggalan.
SA SIA ROONA, KO PE ROONA !
Petuah ini dikemukakan oleh para orang
tua kepada anak-anak untuk mendidik mereka, agar memiliki kepercayaan diri yang
merupakan modal pokok dalam menjalani kehidupan terutama dalam situasi
kehidupan di era sekarang ini.
Era ketika strategi zombisasi mulai
digunakan untuk menggerogoti daya hidup dan membunuh daya cipta tou minahasa. Sebuah
strategi yang diterapkan untuk mengamputasi eksistensi hidup tou minahasa
dengan menjadikan kita sebagai bangkai-bangkai berjalan yang terseok-seok tanpa
tujuan hidup dan gentayangan kesana-kemari
menelantarkan ruang penghidupan.
Strategi ini memiliki latarbelakang yang
sangat mendasar dalam usaha “tou pasengkotan” untuk merebut sumber daya pokok “tou
minahasa” yakni tana warisan leluhur ini – Tana Toar Lumimuut.
Adapun dasar pemikiran yang melandasi
petuah ini bertumpu pada kesadaran bahwa setiap mahluk hidup sama nilainya,
semuanya setara kedudukannya di hadapan sang pencipta.
Dalam bilangan para leluhur :
Esa Cita Waya,
Tou Peleng Masuat,
Cawana Si Parukuan,
Cawana Si Pakuruan,
Pute Waya.
Sair ini menyiratkan pesan mendasar agar
setiap turunan Toar dan Lummuut dapat melalui jalan kebijaksanaan seperti yang
telah dirintis oleh para pendahulu.
Bahwa Mahluk Hidup harus bertumbuh
sebagai Mahluk Hidup – Tou Tumou Tou – Manusia harus bertumbuh sebagai Manusia
dan Mahluk Hidup mesti menjadi seperti layaknya Mahluk Hidup – Tou Mamuali Tou
– Manusia mesti menjadi layaknya Manusia.
Karena inilah jalan cinta kasih yang
diwariskan oleh para leluhur agar keturunan yang datang kemudian memiliki
panduan hidup yang bisa dijadikan teladan, hingga keturunan ini bisa menapaki
titian kehidupan yang ujungnya barulah sebuah permulaan di kaki langit.
TANU SI TETE TUMETE AM PATETEAN NE TETE.
Makapulu sama.
* Sastrawan
dan dosen tetap di fakultas ilmu budaya universitas sam ratulangi
Manado, Sekarang aktiv di mawale movement.
.png)