MEMERDEKAKAN TOU MINAHASA : BEBERAPA POKOK PIKIRAN
Oleh : Fredy M.S.B. Wowor
I
9 November 1989, Tembok Berlin yang memisahkan Jerman Timur yang
Komunistik dan Jerman Barat yang Kapitalistik berhasil diruntuhkan. Peristiwa
ini menjadi titik tolak paling mendasar dari munculnya gelombang perubahan yang
bukan cuma mengubah wajah Eropa tetapi juga dunia. Perang Dingin yang telah
menghantui dunia dengan ancaman perang nuklir selama puluhan tahun akhirnya
berhasil dimenangkan oleh kaum kapitalis.
Kemenangan ini melandasi ekspansi besar-besaran
kapital dan komoditi ke Negara-negara dan wilayah-wilayah yang dahulu berada di
dalam wilayah komunis dan dunia ketiga. Ekspansi inilah yang sekarang kita
kenal dengan dalih “Liberalisasi Pasar” atau dalam bahasa kerennya
“Neoliberalisme”.
11 September 2001, Menara kembar World Trade Center
(WTC) hancur ditabrak oleh pesawat yang dikendalikan oleh “Para Teroris”.
Peristiwa ini memicu tindakan kekerasan berwujud perang besar-besaran terhadap
kaum teroris dan Negara-negara tertentu yang dianggap menjadi pelindung
organisasi-organisasi teroris tersebut. Hasilnya : Afganistan dan Irak hancur.
Islam jadi tertuduh.
Munculnya “Islam” sebagai salah satu peradaban yang
menjadi lawan Amerika yang Kristen dan
bangkitnya Cina – Sang Naga yang Konfusianis– dari tidur panjangnya serta derap
India seolah-olah menjadi pembenar dari Tesis Samuel P. Huntington yang
menyatakan bahwa pasca perang dingin, dunia akan terbelah akibat benturan antar
peradaban (The Clash of Civilizations). Sebuah tesis yang mungkin bisa
ditelusuri akarnya dalam karya monumental Oswald Spengler berjudul,”The Decline
of The West”.
Indonesia sebagai sebuah republik yang didirikan di
atas kesadaran nasional dan anti kolonialisme tak luput dari perubahan pusaran
polaritas kekuatan dunia. Menguatnya kelompok fundamental baik Islam maupun
Kristen sejak era reformasi dan perang antar agama di beberapa daerah serta
pelarangan dan penutupan tempat ibadah telah ikut membantu bertumbuhnya
benih-benih benturan peradaban ini.
Sulawesi
Utara khususnya lagi Minahasa berada pada posisi yang sangat strategis karena berada di tepian Pasifik dan
berbatasan dengan Philipina yang menjadi salah satu pangkalan militer Amerika
di Asia Tenggara. Selain itu jarak antara Sulawesi Utara (Minahasa) dengan
jepang dan cina tidak terlalu jauh.
Kenyataan ini bermakna bahwa Sulawesi Utara
(Minahasa) langsung berada di pusat pertarungan kepentingan politik-ekonomi dan
kebudayaan dunia.
Bila kita melihat kembali ke belakang maka kondisi
kita pada hari ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan apa yang terjadi kurang
lebih 500 tahun yang lalu.
Pada sekitar tahun 1500-an, Sulawesi Utara juga
telah menjadi pusat pertarungan politik global yaitu Spanyol yang berpangkalan
di Philipina, Portugis yang berpangkalan di ternate dan malaka, serta VOC yang
berpangkalan di Batavia dan setelah berhasil mengalakan Kerajaan Islam
Gowa-Tallo berpangkalan di Makasar. Inggris juga pada akhirnya terbukti ikut
memperebutkan Sulawesi Utara khususnya minahasa seiring terjadinya perubahan
politik di eropa, ini bisa dibuktikan dengan keterlibatan mereka yang intens
melawan VOC dan Pemerintah Hindia Belanda di Perang Tondano dengan menjadi
pemasok senjata bagi para gerilyawan Minahasa.
Berada di titik pusat pertarungan kekuatan global
ini ternyata tidak menjadikan Sulawesi Utara khususnya Minahasa lenyap dari
pusaran sejarah karena dilindas berbagai kepentingan, sebaliknya sejarah
membuktikan bahwa bangsa Asia pertama yang berhasil menaklukan salah satu
kekuatan global yang sangat dominan pada waktu itu yaitu Spanyol adalah salah
satu bangsa yang ada di Sulawesi Utara. Bangsa itu adalah bangsa Minahasa.
Peristiwa ini dalam sejarah Minahasa dikenal dengan Perang Kali, terjadi
sekitar pertengahan tahun 1600-an.
Terlepas dari adanya konfrontasi terhadap kekuataan
politik global ini, bangsa-bangsa di Sulawesi Utara juga terbukti melakukan
proses transformasi budaya dengan mengambil unsur-unsur yang berarti dari
bangsa-bangsa seperti Spanyol, Portugis,Belanda,Inggris dan bangsa-bangsa eropa
lainnya.
Unsur-unsur tersebut antara lain mencakup religi,
organisasi kemasyarakatan, pengetahuan, bahasa, kesenian, mata pencarian hidup
dan teknologi. Unsur-unsur yang sekarang kita kenal sebagai unsur-unsur
kebudayaan yang universal. Proses pengambilan unsur-unsur kebudayaan universal
ini terbukti bisa menjadikan bangsa-bangsa yang ada di Sulawesi Utara
khususnya Minahasa sanggup bertahan dari
hantaman gelombang zaman. Proses transformasi budaya ini bisa dilakukan karena
kondisi masyarakat yang bersifat terbuka
dan kritis.
Walau pun demikian,
proses ini tidak senantiasa berjalan lancar, sebab di era orde lama dan
orde baru terbukti juga bahwa Sulawesi Utara (Minahasa) mengalami stagnasi.
Proses stagnasi ini terutama nampak dalam
kebudayaan dengan menurunnya daya cipta manusia. Pemusatan pembangunan di jawa
dan perang saudara di masa Orde Lama dan Pembangunan orde baru yang lebih
memusatkan pada pembangunan ekonomi ternyata mengakibatkan eksploitasi
besar-besaran terhadap sumber daya alam. Dan dalam bidang politik, proses
sentralisasi politik justru mengakibatkan terjadinya degenerasi.
Tapi situasi ini ternyata juga tidak bertahan
selamanya, beberapa tahun sebelum kekuasaan orde baru berakhir, Sulawesi utara
mengalami perkembangan yang begitu berarti bukan saja pada pembangunan
infrastruktur dan ekonomi tapi terlebih dalam bidang kebudayaan.
Gerakan kontra kultura yang muncul di kampus pada
sekitar akhir tahun 1994, telah mengajarkan bahwa kita harus bisa memilih untuk
melakukan perlawanan dari pada terus berdiam diri-tertindas. Sejarah kemudian
membuktikan bahwa pilihan ini tidak keliru. Perubahan itu ternyata mungkin.
Agama bukan cuma soal sorga tapi juga kepedulian di
dunia, kekuasaan tidak selalu terpusat bisa terbagi, kapital tidak selamanya
berupa tanah atau barang tetapi juga bisa berwujud manusia dengan segala
kemampuan kreatifnya. Bahasa bisa verbal bisa juga bahasa biner. Teknologi akan
membantu kita menembus segala pembatasan.
Tahun 1995 di Sulawesi Utara menurutku adalah titik
berangkat mulai terjadinya pergeseran secara khusus dalam seni dan kebudayaan.
Dalam bidang Teater bisa dilihat bagaimana panggung telah bergeser dari dalam
gedung pertunjukan ke jalanan. Dalam karya sastra, juga telah terjadi
pergeseran sikap dan keberpihakan dalam tema-tema tertentu. Sebuah karya sastra
tidak lagi ditulis untuk malanggengkan status quo tapi untuk perubahan. Dalam
organisasi telah muncul basis-basis kebudayaan yang baru yang kemudian terbukti
menghasilkan kader-kader seniman yang konsisten untuk menjalani proses kreatif
dan mencapai hasil kreasi yang bernilai. Munculnya Fakultas Sastra Unsrat
sebagai sebuah barometer kebudayaan alternatif misalnya. Dari Fakultas Sastra
Unsrat muncul teater kronis, kontra,
teater club, bengkel musik dan band-band pelopor lainnya.
Dalam rentang tahun 1995-2010 di sulut, telah
muncul gerakan-gerakan alternative yang
telah bermuara menjadi gerakan budaya yang sekarang dikenal dengan nama
MAWALE MOVEMENT : GERAKAN MEMBANGUN TAMPA TINGGAL .
Gerakan budaya ini mencakup gerakan teater
performance , gerakan musikalisasi puisi yang memadukan sastra dan musik rock,
blues dan regge, gerakan sastra berbahasa melayu manado- sastra tepian pasifik,
gerakan penerbitan buku dan media
alternative, gerakan pembangunan basis kebudayaan diseluruh wilayah Sulawesi
Utara dan gorontalo,dan gerakan internetisasi sastra dengan pembuatan blog
sastra di internet serta pembuatan windows
dan linux minahasa.
Apa yang telah dilakukan sejak tahun 1995 ini
didasarkan terutama pada pilihan strategi menunggangi gelombang globalisasi.
Dengan langsung berhadapan dengan kekuatan-kekuatan politik-ekonomi dan budaya
dunia, Sulawesi Utara (MInahasa) mau tidak mau harus meningkatkan diri
melampaui batas-batas yang selama ini dipilihkan padanya oleh penguasa. Menjadikan
potensi lokal kita mengglobal. Mengglobalkan lokalitas.
II
Salah satu masalah mendasar yang sangat
mempengaruhi usaha untuk berperan aktif dalam era mengglobal ini dan kerap kali
menghantui tou Minahasa terutama kaum muda minahasa adalah masalah kepercayaan
diri.
Masalah kepercayaan diri ini, menurutku terkait
sekali dengan politik pencitraan yang dilakukan oleh para penguasa dari setiap
zaman di sepanjang lintasan sejarah orang Minahasa.
Pada zaman kompeni-hindia belanda misalnya, kita disebut sebagai
orang-orang alifuru yang berarti orang-orang yang tidak beradab. Usaha
pembentukan citra kita sebagai orang yang tidak beradab terutama dilakukan
dengan mengeksploitasi leluri-leluri atau kisah-kisah masa lalu kita terutama
yang terkait dengan soal asal usul yaitu kisah Lumimuut dan Toar. Kisah
Lumimuut dan Toar sebagai persetubuhan antara ibu dan anak yang semula hanya
merupakan salah satu versi dari sekian versi yang ada di dalam leluri-leluri
para walian di seluruh wilayah Malesung kemudian ditetapkan oleh para ahli dari
eropa sebagai versi yang dominan.
Hal ini jelas tidak bisa
dilepaskan dari politik kebudayaan kaum orientalis yang senantiasa menetapkan
bahwa barat beradab dan timur tidak beradab, barat paling maju dan timur paling
terbelakang. Politik kebudayaan yang senantiasa menempatkan segala hal pada
posisi oposisi biner. Wacana yang memang menjadi landasan dari politik
imperialisme.
Pembentukan citra tidak beradab juga dapat ditemukan pada pendapat
yang mengatakan bahwa kita orang
Minahasa harus berterimakasih kepada Kompeni-Belanda karena tanpa kehadiran
mereka, kita tidak akan pernah menyadari betapa pentingnya pendidikan dan akan
terus terpenjara dalam kebodohan dan ketidakberadaban.
Sederhananya,
pendidikan di Minahasa adalah produk dari rasa belas kasihan kompeni-belanda.
Dan ini hanya mungkin karena pada dasarnya orang minahasa tidak pernah peduli
pada pendidikan.Tanpa kehadiran kompeni-belanda dan tentu saja agama Kristen
dalam kehidupan bangsa minahasa pasti tidak akan pernah ada Sam Ratulangi yang
ahli matematika dan fisika itu.
Dalam
perkembangannya yang kemudian,logika berpikir seperti ini pula sangat
mempengaruhi pola pemikiran umum orang minahasa yang hidup di bawah negara kesatuan republik Indonesia, bahwa kita
mesti bersyukur dan berterima kasih karena tanpa adanya NKRI sekarang kita
pasti masih akan terus terbelenggu di bawah kolonialisme dan imperialisme
belanda. Di bawah kolonialisme dan imperialisme ini kita pasti akan terus
dibodohi dan diperas tenaganya.
Pada masa pemerintahan rezim militer orde baru, kita orang minahasa pun
terus diyakinkan bahwa stabilitas politik dan keamanan nasionaldi Indonesia
telah berperan menciptakan generasi baru di minahasa yang bisa disebut “intelek” karena melek huruf.
apabila
kita kaji lagi lebih dalam jalinan alur
pemikiran yang menjadi dasar aprioritas
masyarakat umum di minahasa seperti yang
telah diuraikan sebelumnya, maka kita akan menemukan sebuah tesis sederahana
yang justru menjadi hulu logika berpikir umumnya orang minahasa selama beberapa
waktu belakangan ini.
Tesis
ini menyebut bahwa orang minahasa pada dasarnya bodoh dan tidak beradab jadi
wajar kalau mereka diperhamba. Dengan
diperhamba mereka dapat diajari pengetahuan-pengetahuan secukupnya.
Pengetahuan-pengetahuan
secukupnya ini akan mempermudah mereka berkomunikasi dengan para tuannya
sehingga dapat melaksanakan titah-titah mereka dengan benar.
Pertanyaannya
adalah benarkah orang-orang minahasa sebegitu bodoh dan dungunya sampai
sepanjang sejarah keberadaannya tidak pernah dapat menjadi beradab dengan
paling tidak memperhatikan soal
pendidikan bagi anak cucu mereka, sehingga musti menunggu datangnya para
penjajah dari eropa untuk menyuntikan kesadaran akan pendidikan serta harus hidup di bawah kendali Repoblik Indonesia
untuk mendapatkan pengetahuan?
Apabila
kita telusuri kembali ke belakang
melalui leluri para leluhur maupun laporan-laporan para misionaris eropa
maka akan kita dapati kenyataan bahwa sebenarnya para leluhur kita justru telah
lama menaruh perhatian penting terhadap proses pendidikan dan pembelajaran.
Ini
dapat dibuktikan dengan melihat kenyataan bahwa dahulu kala di minahasa(baca :
malesung) telah dikenal semacam lembaga pendidikan yang disebut papendangen.
Para pengajarnya yang terdiri dari Para tonaas dan walian di sebut mapendang,
sedangkan para pelajarnya baik laki-laki maupun perempuan disebut pahayoan.
Pelajaran-pelajarannya disebut papendang.
Tujuan
dari lembaga pendidikan ini adalah untuk mendidik putra-putri keturunan
lumimuut dan toar agar dapat memimpin dirinya
beserta masyarakat disekelilingnya dalam menghadapi tantangan-tantangan
hidup baik dari alam yang ganas maupundari gangguan bangsa-bangsa lain
disekitarnya.
Mata
pelajaran yang diberikan dalam lembaga pendidikan ini antara lain pamanuan
yaitu segala hal yang berkaitan dengan pemerintahan dan penataan Negara,
manguma yaitu segala hal yang berkaitan dengan pertanian, mangasu yaitu segala
hal yang berhubungan dengan perburuan, wawantian ataukanaramen yaitu segala hal
yang berkaitan dengan adapt istiadat, tumani yaitu segala hal yang berhkaitan
dengan pembukaan pemukiman baru, paposanan yaitu segala hal yang berkaitan
dengan upacara-upacara dan kepercayaan, pangundaman yaitu segala hal yang
berhunguan dengan soal pengobatan, dan yang tak lupa jugadiajarkan adalah
ketrampilan bela diri dan perbintangan.
Adapun
mekanisme pendangen atau pemberian pelajaran ini dilakukan dengan cara para
pelajar atau pahayoan ini tinggal menetap bersama pengajar atau mapendang yang
terdiri dari para tonaas dan walian.
Pada pagi hingga siang hari mereka secara bersama melakukan
aktivitas-aktivitas yang bersifat praktis dalam memenuhi kebutuhan pokok mereka
seperti bertani dan berburu. Sore harinya mereka menerima pelajaran khusus dari
para pengajarnya.
Selama melakukan pekerjaan , pada pagi sampai siang hari ini, mereka
juga sekaligus mempraktekan pelajaran-pelajaran yang telah mereka terima
langsung di bawah pengawasan pengajarnya.
Setelah proses belajar selesai dilaksanakan, mereka kemudian diuji oleh
dewan penguji yang terdiri dari para tonaas dan walian serta tua-tua walak.
Ujian ini dilakukan di atas sebuah meja panjang, berukuran 4 meter dengan lebar
setengah meter yang disebut la’lir,.
Caranya dilakukan melalui media suara, gerak dan mimic. Mereka antara
lain harus melakonkan cara pemujaan terhadap mamarimbing atau lumimuut. Dalam
hal ini mereka diuji kecakapan dan ketangkasan menghayati serta mempraktekan
pelajaran yang telah mereka terima tesebut.
Bertolak dari uraian di atas kita kini dapat meluruskan kekeliruan
pemahaman yang umumnya diyakini oleh banyak orang minahasa sekarang bahwa
kesadaran akan makna pendidikan di minahasa bukanlah pemberian ataupun hadiah
dari kompeni-belanda dan para misionaris eropa sebaliknya , kompeni belanda dan
para misionaris itu sangat diuntungkan dengan adanya tradisi berpengetahuan di
Minahasa.
Hubungan ini menurutku lebih bersifat hubungan timbal- balik dari dua
peradaban yang sederajat dan saling menguntungkan, karena dalam mendekonstruksi
nilai-nilai pembentuk identitas minahasa, para misionaris dan pedagog eropa ini
telah mengadopsi pola pendidikan papendangen menjadi system anak piara yang
ternyata amat berperan dalam proses pengkristenan di minahasa. Masa
perkembangan Kristen di Minahasa ini telah mendorong berkembang pesatnya
pendidikan modern. Melalui sekolah-sekolah yang dibiayai oleh yayasan-yayasan
Kristen ini lahir para guru dari Minahasa yang kemudian menyebar ke seluruh
nusantara dan membawa pencerahan untuk melawan ketidakadilan para penjajah.
Ini membuktikan bahwa pada dasarnya orang minahasa adalah orang yang
gemar mencari pengetahuan. Semangat dan tindakan mencari pengetahuan ini pun
tidak semata-mata karena tradisi atau kebiasaan belaka, tetapi benar-benar
didasari atas pertimbangan untuk bertahan hidup. Artinya para leluhur kita
dahulu selalu belajar untuk tidak ketinggalan zaman. Pada waktu itu mereka
telah belajar, bahwa mereka pun bisa menjadi seperti penakluk-penakluk dari
atas angin itu dengan cara mempelajari pengetahuan mereka. Pengetahuan yang
telah mengantar mereka untuk datang ke tanah lumimuut dan toar ini. Dengan
pengetahuan ini, mereka tidak lagi akan bersikap pasif dan menunggu, tetapi
akan menjadi aktiv dan penuh inisiatif.
Pada zaman awal kemerdekaan, orang minahasa disebut
sebagai antek-antek atau kaki tangan penjajah. Orang-orang yang makan roti
belanda. Citra ini dibangun dengan landasan pemikiran bahwa selama masa
penjajahan Belanda, orang minahasa menikmati status lebih dibandingkan
bangsa-bangsa lain di masa itu. Hal ini dibuktikan dengan melihat banyaknya
orang minahasa yang terpelajar dan kemudian menjadi pegawai di kantor-kantor
milik pemerintah atau menjadi tentara. Kedudukan-kedudukan ini menempatkan
orang minahasa secara ekonomi lebih mampu.
Pandangan yang menuduh orang Manado sebagai kaki-tangan Belanda ini
terutama berkembang seiring berkuasanya Jepang di Indonesia hingga masa-masa
awal kemerdekaan Republik Indonesia.
Pada era pemerintahan orde lama, orang minahasa
juga mendapat status baru sebagai kaum pengkhianat. Ini terkait dengan
peristiwa piagam Permesta yang menuntut adanya otonomi daerah, perimbangan
pembangunan pusat daerah dan kritik politis terhadap kecendrungan politik yang
makin mengarah pada blog komunis. Peristiwa ini telah mengakibatkan peperangan
dan korban baik manusia maupun materi. Kondisi ini berdampak lanjut pada era
orde baru dan memunculkan politik pencitraan sangat terkait dengan usaha
sistematis untuk membatasi peran orang minahasa di bidang sipil dan militer.
Pertanyaan kemudian
yang bisa dimunculkan adalah mengapa harus ada usaha-usaha pembunuhan karakter
terhadap orang minahasa ?
Menurutku, adanya
usaha-usaha pembunuhan karakter ini justru sangat terkait dengan kehadiran kaum
muda. Munculnya generasi baru di setiap zaman berarti munculnya motor penggerak
perubahan dari sebuah zaman yang baru. Munculnya generasi baru
sangat menentukan kemajuan dan masa depan Minahasa, untuk itulah maka
generasi baru ini harus dibuat kehilangan jati dirinya. Kehilangan
identitasnya. Kehilangan rasa percaya dirinya. Sebab generasi yang telah
kehilangan rasa percaya dirinya akan senantiasa hidup dalam kebimbangan dan
tidak bisa lagi menentukan sikap. Ia akan selalu ikut arus tidak perduli arus
itu akan membawanya ke dalam jeram kehancuran.
III
Kita hidup hari ini di
sebuah abad yang penuh dengan prahara. Zaman tanpa batas dimana setiap
peradaban berpacu di jalanan datar menuju titik perbenturan. Era dimana dunia di MCisasi. Era dimana penyeragaman dan homogenisasi identitas menjadi satu kemustian. Era dimana imperialisme
budaya merajalela.
Dalam situasi zaman
seperti ini, masa depan tou Minahasa akan sangat ditentukan oleh kemampuan
bertahan hidup hari ini. Dan soal bertahan hidup hari ini adalah soal bagaimana
kita meningkatkan daya hidup melawan terjangan badai zaman.
Berbicara tentang
peningkatan daya hidup tidak pelak lagi menuntut kita berbicara tentang perjuangan budaya dan soal perjuangan budaya hari ini adalah soal perjuangan menegakkan
identitas.
Edward Said dalam
tulisannya berjudul,”On Jean Ganet Late Works”, mengatakan bahwa,”Imperialism
is the export of identity”.
Pendapat ini mengandung
makna bahwa upaya menegakkan identitas dan melawan pelupaan memang merupakan pilihan yang tidak bisa kita
tawar-tawar lagi sebab bila kita lalai
maka bola globalisasi akan melindas
dan menghomogenisasikan kita. Pada saat
itu kita tidak lebih nilainya dari bangkai-bangkai yang berjalan.
Adapun usaha menegakkan
identitas menurutku mau tidak mau haruslah bertolak dari usaha membangun
kebudayaan. Pembangunan kebudayaan kita sebaiknya tidak cuma terkonsentrasi pada kebudayaan tradisi tapi juga musti melihat perkembangan kebudayaan kontemporer.
Dalam bidang musik perlu
diadakan eksplorasi lebih jauh terhadap Makaaruyen dengan mengadakan
kajian-kajian maupun workshop-workshop yang melibatkan para pemusik yang ada.
Perlu juga diperhatikan perkembangan musik populer seperti rock n’ roll dan
metal mengingat banyaknya anak muda yang
membentuk band-bandnya sendiri. Mereka sangat inovatif mencipta dan mengadakan
konser-konser dengan dana seadanyanya serta berusaha merekam dan memasarkan
karyanya. Contoh yang bisa saya berikan adalah Konser Malendong, Akustika dan
Art For Heaven yang dilaksanakan di Ruang teater fakultas Sastra sejak tahun
2000.
Dalam bidang seni rupa, harus
diadakan kegiatan workshop dan pameran-pameran dengan prioritas pada anak-anak
dan kaum muda. Dalam bidang teater perlu di adakan workshop-workshop acting,
penulisan naskah, dan pentas produksi teater.
Kemajuan di bidang teater ini diharapkan akan menjadi landasan
bertumbuhnya iklim perfilman kita, karena dengan pelatihan yang intens, problem
aktor dan aktris serta naskah yang dapat menghalangi pertumbuhan kualitas
penggarapan film dapat teratasi.
Dalam bidang sastra, perlu dikaderisasi
angkatan penulis baru agar proses perkembangan tidak tersendat-sendat dan
terputus-putus, ini bisa dilakukan melalui workshop penulisan kreatif dan
penerbitan karya serta pemberian penghargaan bagi mereka yang menciptakan karya
inovatif.
Semua ini dilakukan dengan memperhitungkan
pembangunan wacana dan jaringan KESUSASTRAAN TEPI PASIFIK sebagai
terobosan lebih lanjut untuk menjadikan kesusastraan kita menyebar ke seluruh
dunia.
Pada ujungnya semua ini
bermuara pada perlu dibangunnya sekolah seni yang akan mendorong lahirnya seniman-seniman
yang sadar akan keberadaan dirinya dan memiliki daya tahan serta inovasi.
Pembangun sekolah seni ini harus
diimbangi dengan pembangunan pusat dokumentasi seni budaya Sulawesi Utara,
sehingga penemuan-penemuan kreatif dan data-data historis yang sangat penting
bagi eksistensi kita tidak tercecer, dicuri atau malah punah dari muka bumi.
Pembangunan pusat dokumentasi ini bagiku
adalah langkah strategis untuk menerobos kebuntuan budaya selama 500 tahun
terakhir ini,karena sejak pengetahuan baca-tulis dikenal oleh orang minahasa
dan orang-orang Sulawesi utara lainnya mulai dari kisaran tahun 1500-an sampai
sekarang, belum ada sebuah pusat dokumentasi yang benar-benar memenuhi kriteria
: menampung semua sumber pengetahuan dan informasi tentang Minahasa serta
daerah-daerah lain di Sulawesi Utara, baik itu pengetahuan dan informasi dari
masa lalu maupun masa kini. Pendapat ini tentu saja tidak bermaksud mengecilkan usaha pembangunan
pusat dokumentasi yang telah dilakukan oleh berbagai individu yang perduli.
KEPUSTAKAAN
Brahm, Laurence J., 2002. Abadnya Tiongkok. Batam :
Interaksara
Barber, Benjamin R., 2003. Jihad VS McWorld.
Surabaya : Ikon Teralitera
Barker, Chris. 2005. Cultural Studies. Yogyakarta :
Bentang
Canton, James, 2009. The Extreme Future. Jakarta :
Pustaka Alvabet
Caporaso, James A. (dkk). 2008. Teori-Teori Ekonomi
Politik. Yogyakarta : Pustaka pelajar
Engardio, Pete. 2008. Chindia. Jakarta : Bhuana
Ilmu popular
Fishman, Ted C., 2006. China,Inc. Jakarta : Elex
Media Komputindo
Friedman, Thomas L., 2006. The Worls is Flat.
Jakarta : Dian Rakyat
Friedman, Thomas L, 2009. Hot, Flat and Crowded.
Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama
Friedman, Thomas L,
1990. Dari Beirut ke Jerusalem. Jakarta : Penerbit Erlangga
Gibson, Rowan (ed), 2000. Rethinking The Future.
Jakarta : Gramedia
Graafland, N. 1991. Minahasa Negeri,Rakyat,dan
Budayanya. Jakarta : Pustaka Utama Grafiti
Greenspan, Alan, 2008. Abad Prahara. Jakarta : PT
Gramedia Pustaka Utama.
Harvey, David. 2009. Neoliberalisme dan Restorasi
Kelas Kapitalis. Yogyakarta : Resist book
Huntington, Samuel P., 2000. Benturan Antar
Peradaban. Yogyakarta : Penerbit Qalam
Kalangi, N.S., 1979. “Kebudayaan Minahasa”, dalam
Koentjaraninggrat (ed).Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Jakarta : Penerbit
Djambatan
Kartadarmadja, M.S. (ed). 1980/1981. Sejarah
Pendidikan Daerah Sulawesi Utara. Jakarta : Departemen pendidikan dan
Kebudayaan
Malonda, J.F. 1952. “Budaja Malesung”, dalam
Tjeramah-Tjeramah Kebudayaan Malesung. Manado : Jajasan Badan Budaya
Wongken-Werun
Malonda, J.F. 1952. Membuka Tudung Dinamika
Filsafat Purba Minahasa. Manado : Jajasan Badan Budaya Wongken-Werun
Mamengko, Roy E., 2002. Etnik Minahasa. Jakarta :
Sinar Harapan
Mangindaan, Jan G. 2002. Tanah Minahasa dan Kaum
Minahasa. Yayasan DRS. H.R.Ticoalu
Mawikere, Ferry Raymond. Sekutu Dalam Seteru :
Gerakan protes Kristen Minahasa dan Latar Belakang Politik Kolonial Etis Akhir
abad XIX sampai Awal Abad XX. Yogyakarta : Universitas Gajah Mada
Mills, Sara. 2007. Diskursus. Jakarta : Penerbit
Qalam
Naisbitt, John. 1996. Megatrends Asia. Jakarta :
Gramedia Pustaka Utama.
Navarro, Peter. 2008. Letupan-Letupan Perang China
Mendatang. Jakarta : Gramedia
Nordholt, H.S (dkk). 2007. Politik Lokal Di Indonesia. Jakarta : KILTV dan YOI
Ohmae, Kenichi. 1991. Dunia Tanpa Batas. Jakarta :
Binarupa Aksara
Ohmae, Kenichi. 2002. Hancurnya Negara Bangsa.
Yogyakarta : Penerbit Qalam
Ohmae, Kenichi. 2005. The Next Global Stage. Jakarta : Indeks
Riedel J.G.F., 1862. Inilah Pintu Gerbang
Pengatahuwan Itu, Gedrukt Te Batavia, Ter Lands Drukerij
Robertson, Pat. 2000. Tatanan Dunia Baru. Jakarta :
Adonai
Said, Edward. 1977.Orientalism. London : Penguin
Said, Edward. 2003. Kekuasaan, Politik dan
Kebudayaan. Pustaka Promethea
Schwarz. J.ALB.T. 1907. Tontemboansche Teksten.
Leiden : Boekhandel en Drukkerij Voorheen E.J. Brill
Skousen, Mark. 2009. Sang Maestro Teori-Teori
Ekonomi Modern. Jakarta : Prenada
Sheff, David. 2003. Geliat Sang Naga. Batam :
Interaksara
Sondakh, A.J. 2004. Si Tou Timou Tumou Tou. Jakarta
: Sinar Harapan
Taleb,N.C. 2009. Black Swan. Jakarta : PT Gramedia
Pustaka Utama.
Tapscott, Don. (dkk). 2008. Wikinomics. Jakarta :
Bhuana Ilmu Populer
Taulu, H.M. 1951. Sedjarah Minahasa. Tomohon :
Membangun
Taulu, H.M. 1952. Sejarah Persekolahan Daerah dll.
Tomohon : Jajasan Membangun
Taulu, H.M. 1966. Sebingkah Sedjarah Perang
Minahasa-Sepanyol. Tomohon :Jajasan Membangun
Taulu, H.M. 1981. Sejarah dan Anthropologi Budaya
Minahasa Jilid I. Manado : Toko Buku Tunas Harapan
Wenas, Jessy. 2007. Sejarah dan Kebudayaan Minahasa.
Manado : Institut Seni Budaya Sulawesi Utara.
Zeng, Ming dan Peter J. Williamson, 2008. Ancaman
Sang Naga. Jakarta : Gramedia
*Disampaikan dalam seminar “Renungan Merdeka” di
Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Unsrat tanggal 13 Agustus 2010
**Dosen di Jurusan Sastra Indonesia Fakultas
Sastra Unsrat
.png)