Peluncuran Buku Minahasa Menggugat

Bakudapa Mawale - Minahasa antara Warisan Leluhur dan Gugatan di Persimpangan Zaman
Bakudapa Mawale: Minahasa: Antara Warisan Leluhur dan Gugatan di Persimpangan Zaman, dirangkaikan dengan peluncuran buku Minahasa Menggugat: Narasi dan Revolusi, karya Juann Rattu dan Tio Kaat.
BAKUDAPA MAWALE · LITERASI BUDAYA

Minahasa Menggugat: Membaca Kembali Minahasa dari Wale Papendangan

Peluncuran buku Minahasa Menggugat: Narasi dan Revolusi menjadi ruang perjumpaan untuk membicarakan warisan, krisis, narasi, ruang hidup, dan masa depan Tou Minahasa.

Wale Papendangan, Sonder · Sabtu, 18 April 2026 · Bakudapa Mawale

Pada Sabtu, 18 April 2026, Wale Papendangan menjadi tempat berlangsungnya Bakudapa Mawale dengan tema “Minahasa: Antara Warisan Leluhur dan Gugatan di Persimpangan Zaman.” Pertemuan ini dirangkaikan dengan peluncuran buku Minahasa Menggugat: Narasi dan Revolusi, karya Juann Rattu dan Tio Kaat.

Pertemuan tersebut tidak hanya menjadi ruang untuk memperkenalkan sebuah buku. Buku justru menjadi pintu masuk bagi percakapan yang lebih luas: bagaimana Tou Minahasa memahami dirinya, membaca perubahan zaman, mempertanyakan keadaan hari ini, dan menentukan bagaimana pengetahuan serta kebudayaan Minahasa dapat mengambil bagian dalam pembentukan masa depan.

Di Wale Papendangan, buku bertemu dengan percakapan. Tulisan bertemu dengan pengalaman komunitas. Gagasan bertemu dengan kegelisahan yang hidup di kampung, ruang kebudayaan, dan jejaring para pegiat Mawale.

Bakudapa Mawale di Wale Papendangan
Bakudapa Mawale di Wale Papendangan, Sonder, 18 April 2026.

Apa yang Digugat?

Tio Kaat menjelaskan bahwa kata menggugat dalam buku ini tidak diarahkan pada satu persoalan saja. Gugatan pertama ditujukan kepada paradigma lama yang dianggap tidak lagi memadai untuk membaca berbagai perubahan dan persoalan yang dihadapi Minahasa.

Ia menyinggung keadaan ketika paradigma lama melahirkan anomali, situasi anomik, kerentanan, serta pencairan identitas dalam arus kebudayaan populer. Karena itu, persoalan Minahasa tidak cukup dijawab dengan mengulang cara berpikir yang sama.

Gugatan berikutnya menyentuh persoalan spasialitas atau ruang hidup. Pertanyaannya bukan hanya siapa yang secara administratif memiliki ruang, tetapi sejauh mana Tou Minahasa masih memiliki kemampuan untuk hidup, bergerak, menciptakan kebudayaan, dan menentukan masa depannya di ruangnya sendiri.

Buku tersebut juga mempertanyakan gerakan yang terus berulang tetapi tidak menghasilkan perubahan yang cukup berarti. Dari pembacaan itu, Tio Kaat menawarkan tiga wilayah penting: revolusi paradigmatik, spasialitas, dan penguasaan narasi.

Gugatan bukan hanya diarahkan keluar. Ia juga menjadi kesempatan untuk mempertanyakan cara berpikir, sikap, dan praktik kita sendiri sebagai Tou Minahasa.

Minahasa sebagai Subjek Sejarah

Dalam refleksinya setelah Bakudapa Mawale, Juann Rattu melihat pertemuan tersebut sebagai kesempatan untuk kembali menempatkan Minahasa bukan semata-mata sebagai objek yang diceritakan oleh orang lain, tetapi sebagai subjek sejarah yang mampu membaca, menulis, mempertanyakan, dan menentukan narasinya sendiri.

Percakapan bergerak pada berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat Minahasa: tekanan terhadap ruang hidup dan sumber daya, melemahnya pengetahuan lokal, keterputusan dengan ingatan sejarah, serta kemungkinan Tou Minahasa menjadi semakin asing terhadap tanah dan kebudayaannya sendiri.

Dalam keadaan seperti itu, kebudayaan tidak cukup hanya tampil sebagai simbol. Warisan leluhur perlu dibaca kembali sebagai pengetahuan yang masih dapat digunakan untuk memahami keadaan masa kini.

Karena itu, pertanyaan mengenai identitas tidak berhenti pada “siapa orang Minahasa?” Pertanyaan berikutnya jauh lebih penting: apa yang dapat dilakukan dengan pengetahuan Minahasa di tengah perubahan dunia sekarang?

Para pegiat Mawale dalam diskusi di Wale Papendangan
Buku menjadi titik berangkat untuk percakapan mengenai keadaan dan masa depan Minahasa.

Dari Narasi Menuju Kerja Kebudayaan

Salah satu pokok penting dalam Bakudapa Mawale adalah hubungan antara gagasan dan tindakan. Narasi memiliki kekuatan karena menentukan bagaimana suatu masyarakat melihat dirinya sendiri. Namun narasi tidak dapat berhenti sebagai wacana.

Pengetahuan perlu bertemu dengan pengorganisasian. Tulisan perlu bertemu dengan pendidikan. Diskusi perlu terhubung dengan kerja komunitas. Ingatan perlu didokumentasikan. Bahasa perlu digunakan. Seni perlu diciptakan. Ruang hidup perlu dirawat.

Dalam konteks inilah buku memperoleh kehidupan setelah diterbitkan. Buku tidak berhenti sebagai benda di rak, tetapi menjadi bahan membaca, berdiskusi, berdebat, menguji gagasan, dan memulai kerja-kerja baru.

Bagi Wale Papendangan, literasi budaya bukan hanya kemampuan membaca buku, tetapi kemampuan membaca kehidupan, membaca kebudayaan, membaca perubahan, kemudian menghasilkan pengetahuan, karya, dan tindakan dari proses tersebut.

Peluncuran Buku sebagai Praktik Literasi Budaya

Peluncuran Minahasa Menggugat di Wale Papendangan berhubungan langsung dengan kerja literasi budaya yang dikembangkan komunitas ini.

Wale Papendangan menempatkan rumah sebagai pusat kebudayaan dan pusat pendidikan alternatif untuk meningkatkan daya hidup Tou Minahasa.

Karena itu, rumah dapat menjadi tempat buku dibaca, gagasan diperdebatkan, sejarah diperiksa kembali, sastra dibacakan, film diputar, pengetahuan didokumentasikan, seni diciptakan, dan pengalaman antargenerasi dipertemukan.

Peluncuran buku dalam kerangka tersebut bukan sekadar seremoni penerbitan. Ia merupakan bagian dari proses membangun lingkungan tempat membaca, menulis, menerbitkan, mendokumentasikan, meneliti, dan mendiskusikan kebudayaan menjadi praktik hidup di tengah komunitas.

Wale: Rumah yang Menghubungkan

Gagasan tentang wale atau rumah juga memperoleh tempat penting dalam percakapan Bakudapa Mawale.

Rumah tidak hanya berarti sebuah bangunan fisik. Rumah dapat menjadi ruang tempat sebuah masyarakat mengenali dirinya dan membangun kembali hubungannya dengan sejarah, alam, sesama, dan Tuhan.

Bagi Wale Papendangan, rumah adalah titik awal. Tetapi kerja kebudayaan tidak berhenti di rumah.

Rumah terhubung dengan kampung. Kampung terhubung dengan komunitas, gereja, sanggar seni dan budaya, sekolah, serta kampus. Basis-basis tersebut kemudian saling terhubung melalui jaringan komunitas yang lebih luas, termasuk Mawale Movement.

Para partisipan Wale Papendangan berperan sebagai dinamisator dalam pembangunan dan penguatan basis-basis komunitas tersebut. Kerja kebudayaan dengan demikian bukan hanya menghadirkan kegiatan, melainkan membantu tumbuhnya ruang belajar dan inisiatif dari dalam komunitas.

Membaca Warisan, Menghadapi Persimpangan

Tema Bakudapa Mawale, “Minahasa: Antara Warisan Leluhur dan Gugatan di Persimpangan Zaman”, menempatkan warisan dan perubahan bukan sebagai dua hal yang harus dipertentangkan.

Warisan tidak berarti kembali hidup di masa lalu. Pengetahuan yang diwariskan dapat menjadi sumber untuk memahami perubahan dan mencari cara hidup yang sesuai dengan persoalan masa kini.

Dalam prolog buku, Fredy Wowor menyampaikan gagasan mengenai pentingnya visi untuk menentukan orientasi dalam menghadapi zaman yang terus berubah. Di Wale Papendangan, gagasan itu bertemu dengan percakapan komunitas: masa depan tidak cukup hanya ditunggu. Masa depan perlu dibayangkan, diperdebatkan, dipersiapkan, dan dikerjakan.

Pertemuan komunitas Bakudapa Mawale
Bakudapa sebagai ruang bertukar pandangan, membaca keadaan, dan membangun kerja bersama.

Buku, Percakapan, dan Daya Hidup Tou Minahasa

Minahasa Menggugat: Narasi dan Revolusi tidak harus menjadi jawaban terakhir terhadap seluruh persoalan Minahasa. Nilai sebuah buku justru dapat ditemukan dalam kemampuannya membuka pertanyaan-pertanyaan baru dan mendorong pembacanya menguji kembali cara memahami keadaan.

Pertemuan 18 April di Wale Papendangan memperlihatkan salah satu kemungkinan tersebut. Buku menjadi alasan untuk bakudapa. Bakudapa melahirkan percakapan. Percakapan mempertemukan pandangan yang berbeda. Dari pertemuan itu, pengetahuan dapat terus diuji dan dikembangkan.

Hal tersebut sejalan dengan dasar pendidikan Wale Papendangan: pendidikan alternatif untuk meningkatkan daya hidup Tou Minahasa.

Daya hidup itu tumbuh ketika masyarakat masih memiliki kemampuan untuk membaca sejarahnya, menggunakan bahasanya, merawat ruang hidup, menggali pengetahuannya, mempertanyakan keadaan, menciptakan karya, membangun komunitas, dan menghasilkan narasinya sendiri.

Beberapa dokumentasi pertemuan dan peluncuran buku Minahasa Menggugat: Narasi dan Revolusi di Wale Papendangan.

BAKUDAPA MAWALE
Tema: Minahasa: Antara Warisan Leluhur dan Gugatan di Persimpangan Zaman

Dirangkaikan dengan Peluncuran Buku:
MINAHASA MENGGUGAT: Narasi dan Revolusi
Karya: Juann Rattu & Tio Kaat

Sabtu, 18 April 2026
Wale Papendangan, Sonder

Pertemuan berlangsung dalam jejaring Mawale Movement bersama Wale Papendangan, Akar Kanonang, serta para pegiat komunitas.

Pada akhirnya, sebuah buku memperoleh makna bukan hanya ketika selesai dicetak, tetapi ketika ia memasuki kehidupan pembacanya.

Di Wale Papendangan, Minahasa Menggugat memasuki ruang itu: ruang tempat tulisan menjadi percakapan, percakapan menjadi refleksi, dan refleksi mencari jalannya menuju kerja kebudayaan.

BAKUDAPA MAWALE · CULTURAL LITERACY

Minahasa Menggugat: Rethinking Minahasa from Wale Papendangan

The launch of Minahasa Menggugat: Narasi dan Revolusi became a space to discuss heritage, crisis, narrative, living space, and the future of Tou Minahasa.

Wale Papendangan, Sonder · Saturday, 18 April 2026 · Bakudapa Mawale

On Saturday, 18 April 2026, Wale Papendangan hosted Bakudapa Mawale under the theme “Minahasa: Between Ancestral Heritage and a Challenge at the Crossroads of Time.” The gathering was held together with the launch of Minahasa Menggugat: Narasi dan Revolusi, written by Juann Rattu and Tio Kaat.

The event was more than an occasion to introduce a new book. The publication became an entry point into a wider conversation: how Tou Minahasa understands itself, responds to a changing world, questions present conditions, and positions Minahasan knowledge and culture in shaping the future.

At Wale Papendangan, books met conversation. Writing met community experience. Ideas encountered the concerns emerging from villages, cultural spaces, and the broader Mawale network.

Bakudapa Mawale gathering at Wale Papendangan
Bakudapa Mawale at Wale Papendangan, Sonder, 18 April 2026.

What Is Being Challenged?

Tio Kaat explains that the idea of menggugat — to challenge, question, or contest — is not directed toward a single issue.

One of the first challenges concerns old paradigms that are no longer sufficient for understanding the transformations and problems Minahasa faces.

Another concerns spatiality and living space. The question is not simply who legally possesses territory, but to what extent Tou Minahasa retains the ability to live, move, create culture, and determine its future within its own homeland.

The book also questions movements that become repetitive without producing meaningful transformation. From this critique emerge three areas: paradigmatic revolution, spatiality, and control over narrative.

The challenge is not directed only outward. It also gives Tou Minahasa an opportunity to question its own assumptions, attitudes, and practices.
Discussion during Bakudapa Mawale
Community gathering at Wale Papendangan

Minahasa as a Subject of History

In his reflection following Bakudapa Mawale, Juann Rattu described the gathering as an opportunity to reposition Minahasa not merely as an object narrated by others, but as a subject of history capable of reading, writing, questioning, and determining its own narratives.

The discussion addressed pressures on land and natural resources, the weakening of local knowledge, disconnection from historical memory, and the possibility that Tou Minahasa may increasingly feel alienated from their own land and culture.

Culture therefore cannot survive merely as a collection of symbols. Ancestral inheritance must be critically read as knowledge capable of helping communities understand contemporary realities.

The question cannot stop at “Who is Minahasan?” An equally important question is: what can Minahasan knowledge do in a rapidly changing world?

Mawale community discussion
A book became a point of departure for discussing Minahasa's present condition and future.

From Narrative to Cultural Practice

One important thread in the Bakudapa Mawale discussion concerned the relationship between ideas and action. Narratives matter because they shape how a society understands itself. Yet narratives cannot remain at the level of discourse.

Knowledge must encounter community organising. Writing must encounter education. Discussion must connect with community practice. Memory must be documented. Languages must be used. Art must be created. Living spaces must be cared for.

This is how a book can continue to live after publication. It does not need to remain an object on a shelf; it can become material for reading, disagreement, critical examination, and new forms of cultural work.

For Wale Papendangan, cultural literacy is not simply the ability to read books. It is the ability to read life, culture, and change — and then produce knowledge, creative work, and action from that process.

A Book Launch as Cultural Literacy

Hosting the launch of Minahasa Menggugat at Wale Papendangan is closely connected to the community's work in cultural literacy.

Wale Papendangan understands the house as a centre of culture and alternative education aimed at strengthening the vitality of Tou Minahasa.

A house can therefore become a place where books are read, ideas debated, history re-examined, literature performed, films screened, knowledge documented, art created, and generations brought into conversation.

Bakudapa Mawale discussion
Book discussion at Wale Papendangan

Wale: A House that Connects

The idea of wale, or house, also emerged strongly during Bakudapa Mawale.

A house is more than a physical building. It can be understood as a space in which a people recognises itself and rebuilds relationships with history, nature, community, and God.

For Wale Papendangan, the house is a point of departure. Cultural work, however, does not end there.

The house connects with the village. Villages connect with communities, churches, art and cultural groups, schools, and universities. These community bases then connect through wider networks, including the Mawale Movement.

Reading Heritage at the Crossroads of Time

The theme of Bakudapa Mawale, “Minahasa: Between Ancestral Heritage and a Challenge at the Crossroads of Time,” does not position heritage and change as opposites.

Heritage does not require a return to the past. Knowledge inherited from previous generations can instead become a resource for understanding transformation and developing ways of living that respond to present conditions.

In the book's prologue, Fredy Wowor emphasises the importance of vision in determining orientation in an era of continuous change. At Wale Papendangan, this idea met community conversation: the future cannot simply be awaited. It must be imagined, debated, prepared for, and worked toward.

Bakudapa Mawale community gathering

Books, Conversation, and the Vitality of Tou Minahasa

Minahasa Menggugat: Narasi dan Revolusi does not have to provide the final answer to every question facing Minahasa. The value of a book may instead lie in its ability to open new questions and encourage readers to reconsider how they understand present realities.

The gathering at Wale Papendangan demonstrated one possibility. A book created a reason to gather. The gathering generated conversation. Conversation revealed different perspectives. Through those differences, knowledge could continue to be tested and developed.

This corresponds with Wale Papendangan's foundation as an alternative educational space working to strengthen the vitality of Tou Minahasa.

Such vitality grows when people retain the ability to read their history, use their languages, care for their living spaces, question existing conditions, produce knowledge, create art, build communities, and construct their own narratives.

Documentation

BAKUDAPA MAWALE
Theme: Minahasa: Between Ancestral Heritage and a Challenge at the Crossroads of Time

Book Launch:
MINAHASA MENGGUGAT: Narasi dan Revolusi
Authors: Juann Rattu & Tio Kaat

Saturday, 18 April 2026
Wale Papendangan, Sonder

The gathering brought together Wale Papendangan, the Mawale Movement network, Akar Kanonang, and community cultural activists.

Ultimately, a book gains meaning not simply when it is printed, but when it enters the lives of its readers.

At Wale Papendangan, Minahasa Menggugat entered that space: a space where writing becomes conversation, conversation becomes reflection, and reflection seeks a path toward cultural practice.

WALE PAPENDANGAN · MAWALE MOVEMENT · MINAHASA MENGGUGAT · JUANN RATTU · TIO KAAT · BAKUDAPA MAWALE · LITERASI BUDAYA · MINAHASA · SONDER