Pembuatan Baju Kawasaran Sumonder: Merawat Ingatan melalui Tubuh dan Pakaian
Kembalinya Kawasaran Sumonder tidak hanya berkaitan dengan gerak, syair, bunyi, dan pertunjukan. Salah satu bagian penting dari proses tersebut adalah pembuatan baju Kawasaran Sumonder. Pakaian yang dikenakan para pelaku Kawasaran bukan sekadar perlengkapan pentas. Ia menjadi bagian dari tubuh pertunjukan dan sekaligus salah satu cara untuk membaca kembali identitas Kawasaran yang pernah hidup di Sonder.
Ketika generasi muda Sonder mulai menghadirkan kembali Kawasaran Sumonder, persoalan yang muncul bukan hanya bagaimana mengingat atau mempelajari geraknya. Pertanyaan lain ikut muncul: bagaimana bentuk pakaian yang akan dikenakan? Unsur apa yang perlu dipertahankan? Bagaimana membedakannya dari bentuk Kawasaran yang berkembang di tempat lain? Dan bagaimana membuat pakaian yang tetap berhubungan dengan pengetahuan yang menjadi dasar kemunculan kembali Kawasaran Sumonder?
Proses pembuatan baju karena itu menjadi bagian dari pencarian yang lebih besar.
Pakaian sebagai bagian dari pengetahuan
Dalam sebuah pertunjukan, tubuh tidak pernah berdiri sendiri. Gerak selalu berhubungan dengan apa yang dikenakan tubuh, dengan benda yang dibawa, dengan bunyi yang mengiringi, serta dengan ruang tempat seseorang bergerak.
Baju Kawasaran ikut menentukan bagaimana tubuh terlihat ketika bergerak. Warna, bentuk, ikatan, hiasan, dan berbagai bagian pakaian menciptakan hubungan visual dengan gerak para pelakunya.
Tetapi bagi Kawasaran Sumonder, pertanyaan mengenai pakaian tidak cukup dijawab dengan membuat sesuatu yang terlihat “tradisional”.
Prosesnya harus dimulai dari upaya memahami kembali Kawasaran Sumonder itu sendiri.
Karena itu, pembuatan baju menjadi kesempatan untuk mempertemukan ingatan, cerita, pengetahuan para pelaku, serta kebutuhan generasi yang sedang menghidupkan kembali Kawasaran tersebut.
Tidak sekadar membuat kostum pertunjukan
Istilah “kostum” sering membuat pakaian pertunjukan terlihat seperti sesuatu yang hanya dipakai ketika seseorang naik ke panggung. Setelah pertunjukan selesai, pakaian kemudian disimpan dan tidak memiliki hubungan lagi dengan kehidupan orang yang mengenakannya.
Dalam proses Kawasaran Sumonder, pakaian dapat dibaca dengan cara yang berbeda.
Ia merupakan bagian dari cara sebuah kelompok menampilkan dirinya. Ketika seseorang mengenakannya, ia masuk ke dalam hubungan dengan kelompok, dengan gerak yang dipelajari, dengan sejarah yang sedang dicari kembali, dan dengan identitas Sumonder yang hendak dihadirkan.
Karena itu, pembuatan baju bukan pekerjaan tambahan setelah latihan selesai. Ia merupakan bagian dari proses pembentukan Kawasaran itu sendiri.
Gerak membutuhkan tubuh. Tubuh membutuhkan pakaian. Pakaian kemudian memberi bentuk lain kepada gerak ketika Kawasaran dipentaskan.
Mencari bentuk tanpa membekukan tradisi
Salah satu tantangan ketika menghidupkan kembali sebuah praktik budaya adalah keinginan untuk segera menemukan satu bentuk yang dianggap paling asli.
Padahal pengetahuan kebudayaan sering kali tidak tersimpan dalam satu sumber yang lengkap. Ia dapat berada dalam ingatan orang, cerita, dokumentasi lama, pengalaman para pelaku, istilah, serta berbagai potongan pengetahuan yang perlu dibaca bersama.
Karena itu, pembuatan baju Kawasaran Sumonder juga merupakan proses menafsirkan.
Apa yang diketahui perlu diperiksa. Apa yang masih diingat perlu dibicarakan. Apa yang tidak lagi diketahui harus diakui sebagai bagian yang memang masih perlu dicari.
Pendekatan seperti ini penting agar proses revitalisasi tidak berubah menjadi penciptaan cerita baru yang kemudian dianggap sebagai sejarah.
Menghidupkan kembali tradisi tidak berarti harus berpura-pura bahwa semua hal dari masa lalu masih diketahui secara lengkap. Justru pencarian itu sendiri menjadi bagian penting dari proses belajar.
Dibuat melalui kerja bersama
Pembuatan pakaian juga memperlihatkan sisi yang sering tidak tampak ketika Kawasaran sudah berada di arena pertunjukan.
Sebelum para pelaku berdiri dengan pakaian lengkap, ada pekerjaan tangan yang panjang. Ada pengukuran, pemotongan bahan, penyesuaian bentuk, pemasangan bagian-bagian pakaian, mencoba pakaian pada tubuh, melihat bagaimana pakaian bereaksi ketika orang bergerak, lalu memperbaikinya kembali.
Proses semacam ini membuat sebuah pertunjukan sebenarnya lahir jauh sebelum penonton melihatnya.
Ia lahir dalam ruang latihan, dalam percakapan mengenai sejarah, dan juga dalam pekerjaan sederhana ketika orang duduk bersama mempersiapkan apa yang akan dikenakan.
Di sana kerja kebudayaan menjadi sangat konkret. Pengetahuan tidak hanya dibicarakan, tetapi dikerjakan dengan tangan.
Tubuh generasi baru membawa ingatan lama
Ada sesuatu yang menarik ketika baju Kawasaran Sumonder akhirnya dikenakan oleh generasi yang menghidupkannya kembali.
Pakaian itu berada pada tubuh orang-orang yang hidup dalam zaman berbeda dari para pendahulu mereka. Mereka menghadapi dunia yang berbeda, menggunakan teknologi yang berbeda, dan tumbuh dalam kehidupan sosial yang juga telah berubah.
Namun ketika mereka belajar gerak, syair, dan mengenakan pakaian Kawasaran Sumonder, tubuh generasi sekarang memasuki percakapan dengan pengetahuan yang datang dari generasi sebelumnya.
Di sinilah tradisi memperoleh daya hidup.
Ia tidak hidup karena dipajang sebagai benda masa lalu. Ia hidup karena kembali memasuki tubuh manusia.
Pakaian yang dibuat kemudian bukan hanya benda yang menyerupai masa lalu, tetapi menjadi bagian dari proses bagaimana generasi hari ini mencoba memahami dan membawa kembali suatu pengetahuan ke dalam kehidupannya.
Dari pembuatan baju menuju pertunjukan
Ketika Kawasaran Sumonder kemudian tampil, penonton melihat hasil dari seluruh proses tersebut secara bersamaan.
Mereka melihat tubuh, pakaian, gerak, syair, bunyi, dan kelompok yang bergerak dalam satu kesatuan.
Apa yang tidak terlihat adalah rangkaian pencarian sebelum pertunjukan berlangsung: percakapan, latihan, kesalahan, perbaikan, penelitian, serta pekerjaan membuat perlengkapan yang memungkinkan pertunjukan itu hadir.
Karena itu, dokumentasi mengenai pembuatan baju Kawasaran Sumonder juga penting.
Dokumentasi tidak seharusnya hanya dilakukan ketika pertunjukan sudah berada di panggung. Proses pembuatan pakaian, latihan gerak, pembicaraan mengenai istilah, pencarian sejarah, dan berbagai tahap persiapan juga merupakan bagian dari pengetahuan yang perlu disimpan.
Jika hanya pertunjukannya yang direkam, generasi berikutnya mungkin mengetahui seperti apa Kawasaran terlihat, tetapi tidak mengetahui bagaimana orang-orang pada masa ini berusaha menghadirkannya kembali.
Bagian dari perjalanan Kawasaran Sumonder
Pembuatan baju Kawasaran Sumonder dengan demikian menjadi salah satu bagian dari perjalanan revitalisasi yang lebih luas.
Ia berjalan bersama pencarian mengenai sejarah Kawasaran Sumonder, pembelajaran gerak dan syair, latihan para pelaku, pertunjukan kembali, serta dokumentasi yang kemudian dilakukan melalui foto dan film.
Wale Papendangan melihat proses semacam ini sebagai bagian dari kerja kebudayaan. Kebudayaan tidak hanya dirawat melalui pembicaraan mengenai masa lalu, tetapi melalui tindakan konkret yang memungkinkan pengetahuan kembali digunakan dalam kehidupan sekarang.
Membuat baju, dalam konteks ini, adalah bagian dari proses belajar.
Orang belajar dari bentuk.
Belajar dari tubuh.
Belajar dari ingatan.
Belajar dari apa yang masih diketahui sekaligus dari apa yang sudah tidak lagi diketahui.
Dan ketika baju itu akhirnya dikenakan dalam Kawasaran Sumonder, ia membawa lebih dari sekadar warna dan bentuk. Ia membawa jejak sebuah generasi yang sedang berusaha menjalin kembali hubungan dengan pengetahuan kebudayaannya sendiri.
