Pembuatan Garden Amidst the Flame di Wale Papendangan: Ketika Rumah Menjadi Ruang Penciptaan Film

 

Wale Papendangan di Sonder tidak hanya menjadi tempat berdiskusi, belajar, membaca, atau membicarakan kebudayaan Minahasa. Pada satu periode, rumah ini juga menjadi bagian dari proses penciptaan film Garden Amidst the Flame karya sutradara dan seniman Natasha Tontey.

Kehadiran proses produksi film di Wale Papendangan memperlihatkan bagaimana sebuah rumah dapat berkembang menjadi ruang kerja artistik. Percakapan mengenai kebudayaan, pertemuan dengan pelaku seni tradisi, pengamatan terhadap tubuh dan gerak, sampai proses pengambilan gambar dapat berlangsung dalam ruang yang sama. Film tidak datang sebagai kegiatan yang sepenuhnya terpisah dari kehidupan Wale, tetapi bertemu dengan kerja kebudayaan yang sudah berlangsung di dalamnya.

Dari pertemuan menuju proses penciptaan

Pembuatan sebuah film tidak selalu dimulai ketika kamera dinyalakan. Sebelum sebuah gambar direkam, biasanya terdapat proses yang lebih panjang: pertemuan, percakapan, pencarian gagasan, pengamatan, pembacaan terhadap tempat, serta hubungan yang dibangun dengan orang-orang yang kemudian terlibat.

Proses Garden Amidst the Flame di Wale Papendangan berada dalam suasana semacam itu. Natasha Tontey datang bukan hanya membawa sebuah rencana produksi, tetapi memasuki ruang tempat kebudayaan Minahasa telah lama dibicarakan, dipelajari, dipraktikkan, dan dipertemukan dengan berbagai bentuk seni.

Wale Papendangan kemudian menjadi salah satu tempat di mana gagasan artistik dapat diuji melalui perjumpaan langsung dengan orang, tubuh, cerita, dan pengalaman kebudayaan.

Dalam proses seperti ini, rumah tidak lagi hanya menjadi lokasi. Ia ikut membentuk suasana penciptaan.

Kawasaran Wulan Lengkoan dalam Garden Amidst the Flame

Salah satu hubungan penting dalam Garden Amidst the Flame adalah keterlibatan Kawasaran Wulan Lengkoan.

Kehadiran Kawasaran membawa tubuh dan gerak Minahasa ke dalam wilayah penciptaan film kontemporer. Namun Kawasaran tidak hanya dapat dilihat sebagai elemen visual. Gerak yang muncul dalam pertunjukan mempunyai hubungan dengan pengalaman tubuh, ingatan, bunyi, ritme, pakaian, kelompok, serta pengetahuan yang berada di sekitarnya.

Karena itu, ketika Kawasaran memasuki sebuah film, proses yang menarik sebenarnya terjadi pada pertemuan antara dua praktik. Di satu sisi terdapat pengetahuan dan pengalaman para pelaku Kawasaran; di sisi lain terdapat bahasa sinema dan pendekatan artistik Natasha Tontey.

Pertemuan tersebut memungkinkan Kawasaran dibaca kembali melalui kamera tanpa harus berhenti menjadi sekadar pertunjukan yang direkam.

Tubuh dapat ditempatkan berbeda melalui komposisi gambar. Gerak dapat memperoleh hubungan baru dengan ruang. Bunyi dapat dipertemukan dengan suasana yang tidak selalu muncul dalam pertunjukan biasa. Melalui proses penyutradaraan dan penyuntingan, fragmen-fragmen tersebut kemudian membentuk dunia film yang mempunyai logikanya sendiri.

Wale Papendangan sebagai ruang kerja film

Pembuatan Garden Amidst the Flame menjadi salah satu pengalaman yang memperlihatkan fungsi lain Wale Papendangan. Rumah ini dapat menjadi tempat seniman bertemu dengan pelaku kebudayaan, melakukan workshop, membicarakan gagasan, mengembangkan pendekatan, dan kemudian membawa percakapan tersebut ke dalam sebuah karya.

Bagi Wale Papendangan, posisi seperti ini penting karena kerja kebudayaan tidak harus selalu berakhir dalam bentuk seminar, tulisan, atau pertunjukan tradisional. Pengetahuan dapat berpindah medium.

Cerita dapat menjadi film. Gerak dapat menjadi gambar. Percakapan dapat berkembang menjadi penelitian artistik. Pengalaman seseorang dapat memperoleh bentuk baru melalui performans. Sebaliknya, sebuah karya film juga dapat mendorong orang untuk kembali mempertanyakan apa yang selama ini mereka ketahui tentang kebudayaannya sendiri.

Dengan cara demikian, produksi film bukan kegiatan yang datang dari luar kemudian menggunakan Wale Papendangan sebagai latar. Ia dapat menjadi bagian dari pertukaran pengetahuan yang terjadi di dalam rumah.

Ketika seni tradisi bertemu seni kontemporer

Pertemuan antara Kawasaran dan karya Natasha Tontey juga berhubungan dengan salah satu perhatian Wale Papendangan sejak awal: bagaimana seni tradisi dapat bertemu dengan bentuk penciptaan yang terus berubah.

Bagi Wale Papendangan, tradisi tidak harus disimpan dalam bentuk yang sepenuhnya terpisah dari kehidupan kontemporer. Kalelon dapat bertemu puisi atau musik modern. Kawasaran dapat bertemu teater dan film. Sastra dapat berhubungan dengan fotografi, musik, dokumentasi, dan media audiovisual.

Namun pertemuan tersebut membutuhkan pemahaman terhadap konteks.

Seni tradisi tidak seharusnya diperlakukan hanya sebagai bahan visual yang menarik. Di balik sebuah gerakan, lagu, pakaian, atau istilah terdapat pengetahuan dan pengalaman masyarakat yang membuatnya hidup. Karena itu, eksperimentasi menjadi lebih berarti ketika dilakukan melalui percakapan dengan orang-orang yang membawa pengetahuan tersebut.

Proses Garden Amidst the Flame menjadi salah satu contoh bagaimana pertemuan itu dapat berlangsung. Praktik seni kontemporer tidak harus menggantikan seni tradisi, dan seni tradisi tidak harus menutup diri dari bentuk baru. Keduanya dapat berada dalam satu proses penciptaan selama hubungan di antara keduanya terus dibicarakan dan dipertanyakan.

Film sebagai cara lain membaca kebudayaan

Kamera memberikan cara pandang yang berbeda terhadap sesuatu yang sehari-hari mungkin dianggap biasa. Ketika sebuah gerak direkam dan dilihat kembali, perhatian dapat tertuju pada detail yang sebelumnya tidak diperhatikan: bagaimana tubuh berpindah, bagaimana pakaian mengikuti gerakan, bagaimana seseorang melihat orang lain, bagaimana sebuah ruang memengaruhi tubuh, atau bagaimana suara membentuk suasana.

Di sinilah film dapat menjadi bagian dari literasi budaya.

Menonton film bukan hanya melihat cerita yang sudah selesai. Film dapat digunakan untuk membaca kembali tubuh, ruang, lingkungan, simbol, dan hubungan antarmanusia. Proses pembuatannya bahkan dapat menghasilkan pengetahuan tersendiri karena orang yang terlibat harus memikirkan kembali apa yang akan diperlihatkan dan mengapa sesuatu ditampilkan dengan cara tertentu.

Bagi Wale Papendangan, pendekatan seperti ini sejalan dengan gagasan bahwa kebudayaan perlu terus dibaca. Membaca tidak hanya dilakukan melalui buku. Masyarakat juga dapat membaca gerak, lingkungan, sejarah, pengalaman, dan perubahan yang sedang berlangsung di sekitarnya.

Film menjadi salah satu medium untuk melakukan pekerjaan tersebut.

Sebuah rumah dalam perjalanan sebuah karya

Setelah sebuah film selesai, penonton biasanya hanya melihat hasil akhirnya. Lokasi-lokasi tempat percakapan berlangsung, orang-orang yang terlibat dalam pencarian awal, workshop, percobaan, dan berbagai hubungan yang memungkinkan karya tersebut terbentuk sering kali tidak terlihat lagi.

Karena itu, mendokumentasikan proses pembuatan Garden Amidst the Flame di Wale Papendangan juga penting bagi sejarah Wale sendiri.

Ia mencatat bahwa sebuah rumah di Sonder pernah menjadi bagian dari perjalanan penciptaan sebuah karya seni kontemporer yang mempertemukan Natasha Tontey dengan pengalaman dan praktik kebudayaan Minahasa.

Yang penting dari catatan tersebut bukan sekadar bahwa sebuah film pernah dibuat di Wale Papendangan. Lebih dari itu, proses tersebut memperlihatkan apa yang dapat terjadi ketika sebuah ruang kebudayaan membuka dirinya bagi pertemuan.

Seniman datang dengan pertanyaan dan pendekatan artistiknya. Pelaku kebudayaan datang dengan pengalaman serta pengetahuan yang mereka bawa. Rumah menyediakan ruang untuk keduanya bertemu, sementara film menjadi salah satu bentuk yang kemudian lahir dari hubungan tersebut.

Dari Wale menuju ruang yang lebih luas

Perjalanan Garden Amidst the Flame kemudian membawa karya tersebut ke ruang-ruang yang lebih luas. Tetapi bagi Wale Papendangan, penting untuk mengingat bahwa sebelum sebuah karya berada di layar, festival, atau ruang seni, selalu terdapat proses yang jauh lebih dekat dan sederhana.

Ada rumah yang menjadi tempat bertemu. Ada orang yang menyediakan waktu untuk berbicara. Ada pelaku seni yang membawa tubuh dan pengetahuannya. Ada proses mencoba, mengulang, mendiskusikan, dan akhirnya merekam.

Di situlah arti pembuatan Garden Amidst the Flame di Wale Papendangan menjadi penting.

Wale bukan hanya tempat sebuah kamera pernah diletakkan. Ia menjadi salah satu ruang di mana seni tradisi, pengetahuan Minahasa, praktik seni kontemporer, dan proses penciptaan film dapat saling berjumpa.

Pengalaman itu kemudian menjadi bagian dari perjalanan Wale Papendangan sendiri: perjalanan sebuah rumah yang terus mencari cara agar kebudayaan tidak hanya dikenang sebagai sesuatu dari masa lalu, tetapi tetap memiliki ruang untuk dibaca, dipertanyakan, dipraktikkan, dan diciptakan kembali dalam bentuk-bentuk yang baru.