Wale Papendangan Pentas di Acara Pentas Sastra Akhir Tahun Mapatik

Fredy Wowor mewakili Wale Papendangan membaca puisi pada Sastra Natal Mapatik 2025
Fredy Wowor mewakili Wale Papendangan dalam pentas Sastra Natal Mapatik, 27 Desember 2025 di Tomohon.
WALE PAPENDANGAN · SASTRA · JEJARING KEBUDAYAAN · 2025

Wale Papendangan di Sastra Natal Mapatik: Merayakan Sepuluh Tahun Literasi melalui Puisi dan Perjumpaan

Fredy Wowor hadir mewakili Wale Papendangan dan membacakan puisi dalam puncak perayaan sepuluh tahun Komunitas Penulis Mapatik, sebuah pertemuan yang mempertautkan sastra, Natal, seni, persahabatan, dan kerja kebudayaan Minahasa.

Sastra Natal Mapatik · Sabtu, 27 Desember 2025 · Kelung Cafe, Matani, Kota Tomohon

Penghujung 2025 mempertemukan kembali para penulis, seniman, budayawan, dan pegiat komunitas Minahasa dalam Sastra Natal Mapatik. Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu, 27 Desember 2025 di Kelung Cafe, Matani, Kota Tomohon, sekaligus menjadi puncak perayaan sepuluh tahun perjalanan Komunitas Penulis Mapatik.

Wale Papendangan turut mengambil bagian dalam perayaan tersebut. Fredy Wowor hadir mewakili Wale Papendangan dan membacakan puisi dalam rangkaian pentas sastra malam itu. Kehadirannya menempatkan Wale Papendangan bukan hanya sebagai tamu, tetapi sebagai bagian dari perjumpaan kebudayaan yang dibangun Mapatik bersama jejaring penulis, seniman, budayawan, dan komunitas di Minahasa.

Perayaan berlangsung dalam bentuk yang cair. Ibadah Natal bertemu dengan pembacaan sastra, musik, doa, percakapan, makan bersama, dan berbagai penampilan seni. Generasi senior dan generasi yang lebih muda berada dalam ruang yang sama, membawa karya, pengalaman, serta cara masing-masing dalam merayakan perjalanan sepuluh tahun Mapatik.

“Literasi belum usai
Banyak aksara belum dikuasai
Goresan pena masih bertinta
Ujung kalimat belum terlihat
Bahkan cerita baru menyusun kata
Sepuluh tahun bersama
Masih banyak lagi menunggu kita.” — Komunitas Penulis Mapatik

Sepuluh Tahun yang Bukan Garis Akhir

Perayaan sepuluh tahun Mapatik tidak hanya menjadi kesempatan untuk mengenang apa yang telah dikerjakan. Justru melalui refleksinya, Mapatik menempatkan satu dekade perjalanan itu sebagai bagian dari pekerjaan literasi yang masih terus bergerak.

Selama bertahun-tahun, komunitas ini membangun ruang menulis, sekolah literasi, kegiatan jurnalistik, penerbitan, dan berbagai aktivitas yang mempertemukan bahasa, sastra, sejarah, serta kebudayaan Minahasa.

Berbagai buku telah dihasilkan melalui proses tersebut, sementara karya-karya baru terus disiapkan. Di balik setiap buku terdapat proses yang lebih panjang: orang belajar menulis, membaca kembali kehidupan di sekitarnya, mengolah pengalaman menjadi cerita, dan mencoba menempatkan pengetahuan Minahasa di dalam bahasa tulisan.

Bagi Wale Papendangan, kerja semacam ini memiliki kedekatan dengan gagasan literasi budaya. Menulis bukan hanya keterampilan menghasilkan kalimat. Menulis dapat menjadi cara untuk mendokumentasikan kehidupan, menyimpan ingatan, mempertanyakan sejarah, dan memastikan masyarakat tetap memiliki kemampuan untuk menceritakan dirinya dari sudut pandangnya sendiri.

Suasana Sastra Natal Mapatik di Tomohon
Sastra Natal Mapatik mempertemukan penulis, seniman, budayawan, dan jejaring komunitas dalam perayaan bersama.

Fredy Wowor Membawa Wale Papendangan ke Panggung Sastra

Dalam rangkaian acara tersebut, Fredy Wowor berdiri di panggung sebagai perwakilan Wale Papendangan. Ia mengambil bagian melalui medium yang sangat dekat dengan perjalanan kebudayaannya: puisi.

Posisi ini penting dicatat. Fredy tidak hadir hanya sebagai individu atau salah seorang budayawan yang berada di antara banyak undangan. Melalui pembacaan puisinya, Wale Papendangan turut berpentas dan memberi penghormatan kepada sepuluh tahun kerja literasi Mapatik.

Fredy telah lama bergerak dalam sastra, pemikiran, pendidikan, seni, dan kebudayaan Minahasa. Karena itu, pembacaan puisi malam itu menjadi bagian dari perjalanan yang lebih panjang mengenai bagaimana tulisan dan seni digunakan untuk membaca kehidupan.

Di Wale Papendangan, sastra tidak dipisahkan dari penelitian, percakapan, musik, teater, film, maupun pengetahuan yang hidup di masyarakat. Puisi dapat berangkat dari kehidupan sehari-hari, dari kegelisahan terhadap perubahan zaman, dari ingatan, alam, sejarah, dan hubungan manusia dengan dunia di sekitarnya.

Ketika Fredy membacakan puisi di panggung Mapatik, pertemuan itu sekaligus mempertautkan dua ruang kebudayaan: Mapatik dengan perjalanan literasinya dan Wale Papendangan dengan kerja pendidikan, sastra, seni, dan kebudayaannya.

Wale Papendangan dalam Sastra Natal Mapatik

Fredy Wowor hadir mewakili Wale Papendangan dan membacakan puisi dalam rangkaian pentas Sastra Natal Mapatik, sebagai bentuk dukungan dan penghormatan terhadap sepuluh tahun perjalanan Komunitas Penulis Mapatik serta kerja literasi yang terus tumbuh di Minahasa.

Ketika Panggung Menjadi Ruang Pertemuan

Malam itu panggung tidak dimiliki oleh satu generasi atau satu bentuk seni. Para seniman dan budayawan bergantian membawakan karya mereka. Senior dan yunior hadir dalam suasana yang sama, sehingga sastra tidak berdiri sebagai aktivitas yang terpisah dari kehidupan sosial.

Aldes Sambalao turut tampil membacakan puisi. Di antara para seniman dan budayawan yang hadir terdapat Eric Dajoh, Rikson Karundeng, Kalfein Wuisan, Daniel Kaligis, Greenhill Weol, Fredy Wowor, serta berbagai pegiat kebudayaan lainnya.

Ada pula pembacaan Mazmur dalam rangkaian ibadah Natal. Musik dan nyanyian bergantian dengan puisi, sementara percakapan terus berlangsung di antara bagian-bagian acara.

Perjumpaan seperti ini menjadi penting karena kehidupan kebudayaan tidak dibentuk hanya ketika sebuah karya selesai diterbitkan atau dipentaskan. Ia juga tumbuh ketika para pelakunya mempunyai ruang untuk bertemu, mendengar karya satu sama lain, memperdebatkan gagasan, dan membangun hubungan yang mungkin berkembang menjadi kerja bersama pada waktu berikutnya.

Perayaan sepuluh tahun Komunitas Penulis Mapatik
Seni, sastra, percakapan, dan perayaan Natal hadir dalam satu ruang bersama.
Seniman dan budayawan dalam Sastra Natal Mapatik
Para pelaku kebudayaan lintas generasi bertemu dalam puncak perayaan sepuluh tahun Mapatik.

Natal, Sastra, dan Kehidupan Bersama

Sastra Natal Mapatik memiliki suasana yang berbeda dari perayaan ulang tahun organisasi yang biasanya dipenuhi sambutan dan seremoni. Ibadah Natal menjadi bagian dari perjumpaan, sementara seni dan sastra tumbuh di dalam suasana yang akrab.

Lilin Natal dinyalakan bersama. Mazmur dibacakan. Puisi mendapat tempat di antara doa dan lagu. Sesudah itu orang berbicara, makan, minum, bercanda, dan melanjutkan pertemuan sampai malam semakin larut.

Dalam suasana seperti itu, kebudayaan hadir bukan sebagai sesuatu yang dipamerkan dari kejauhan, melainkan sebagai bagian dari kehidupan bersama. Sastra tidak hanya berada di buku, musik tidak hanya berada di panggung, dan perayaan tidak berhenti pada susunan acara.

Hubungan antarmanusia menjadi salah satu bagian terpenting dari pertemuan tersebut.

Dokumentasi Sastra Natal Mapatik 2025
Dokumentasi perayaan Sastra Natal Mapatik, Tomohon, 27 Desember 2025.

Komunitas Tidak Bekerja Sendirian

Bagi Wale Papendangan, kehadiran dalam perayaan Mapatik juga memperlihatkan pentingnya hubungan antarkomunitas. Sebuah ruang kebudayaan tidak dapat tumbuh apabila terus bekerja sendirian.

Mapatik mempunyai pengalaman dalam sastra, sekolah menulis, penerbitan, dan pengembangan penulis muda. Wale Papendangan bergerak melalui pendidikan alternatif, bahasa dan sastra, seni tradisi, penelitian, film, dokumentasi, penerbitan, serta berbagai proses eksperimentasi seni.

Di tempat lain terdapat komunitas yang bekerja melalui musik, sejarah, organisasi masyarakat, seni pertunjukan, advokasi, ataupun bentuk-bentuk pengetahuan lainnya.

Ketika ruang-ruang tersebut bertemu, masing-masing tidak harus kehilangan identitasnya. Justru pengalaman yang berbeda dapat saling menguatkan dan membuka kemungkinan kerja baru.

Dalam kerangka itulah Wale Papendangan memahami pentingnya jejaring kebudayaan. Hubungan tidak hanya dibangun melalui organisasi formal, tetapi juga melalui perjumpaan, persahabatan, karya, diskusi, dan kesediaan untuk hadir ketika komunitas lain sedang merayakan perjalanannya.

Dari Satu Rumah ke Rumah yang Lain

Ada hubungan menarik antara perjalanan Mapatik dan gagasan Wale Papendangan mengenai rumah sebagai pusat kebudayaan.

Mapatik sendiri bertumbuh dari pertemuan orang-orang yang menulis dan membangun ruang bersama. Sepuluh tahun kemudian, komunitas tersebut telah menghasilkan berbagai karya dan mempertemukan banyak generasi penulis.

Wale Papendangan juga berangkat dari keyakinan bahwa kebudayaan tidak harus selalu menunggu hadirnya gedung atau institusi besar. Rumah dapat menjadi tempat membaca, berdiskusi, menulis, membuat film, berlatih seni, melakukan penelitian, dan mempertemukan generasi.

Dari satu rumah menuju rumah lain, dari satu komunitas menuju komunitas lain, pengetahuan dapat bergerak melalui hubungan yang dibangun oleh orang-orang yang menghidupinya.

SASTRA NATAL MAPATIK

Puncak Perayaan 10 Tahun Komunitas Penulis Mapatik
Kolaborasi Budaya Minahasa, Ibadah Natal, Sastra dan Seni

Sabtu, 27 Desember 2025
Kelung Cafe, Matani, Kota Tomohon

Partisipasi Wale Papendangan:
Fredy Wowor hadir mewakili Wale Papendangan dan membacakan puisi dalam rangkaian pentas sastra.

Menutup Tahun dengan Energi Baru

Pertemuan berlangsung sejak sore dan baru berakhir setelah lewat tengah malam. Lamanya pertemuan mungkin menjadi salah satu tanda bahwa acara tidak hanya hidup melalui susunan program.

Orang bertahan karena ada percakapan yang ingin dilanjutkan, karya yang ingin didengar, lagu yang ingin dinyanyikan, serta sahabat yang mungkin sudah lama tidak berada dalam satu ruang bersama.

Menjelang 2026, sepuluh tahun perjalanan Mapatik justru membuka kesadaran bahwa kerja literasi masih panjang. Masih banyak cerita yang belum ditulis, pengetahuan yang belum didokumentasikan, bahasa yang perlu terus digunakan, arsip yang perlu dibangun, dan generasi baru yang membutuhkan ruang untuk menciptakan karya mereka sendiri.

Dalam konteks itulah kehadiran Wale Papendangan melalui pembacaan puisi Fredy Wowor memperoleh makna. Ia menjadi bentuk sederhana dari solidaritas antarruang kebudayaan: datang ketika komunitas lain merayakan perjalanannya, membawa karya, mengambil bagian, dan mengakui bahwa kerja kebudayaan Minahasa membutuhkan banyak orang serta banyak ruang.

Sepuluh tahun Mapatik bukan hanya cerita mengenai sebuah organisasi yang berhasil bertahan selama satu dekade. Ia adalah cerita mengenai orang-orang yang memilih untuk terus menulis, membaca, menerbitkan, mempertemukan generasi, dan menyediakan ruang bagi karya-karya baru.

Wale Papendangan hadir pada malam itu untuk ikut merayakan perjalanan tersebut. Fredy Wowor membawa puisi ke panggung sebagai perwakilan Wale Papendangan, mempertemukan satu ruang kebudayaan dengan ruang kebudayaan lainnya.

Ketika malam semakin larut dan perayaan akhirnya selesai, pekerjaan literasi tentu tidak ikut selesai. Seperti refleksi Mapatik sendiri, masih banyak kata yang sedang mencari kalimatnya dan banyak cerita yang menunggu untuk dituliskan.

Sepuluh tahun menjadi kesempatan untuk melihat ke belakang, tetapi juga untuk memastikan bahwa perjalanan berikutnya masih mempunyai ruang untuk dimulai.