Wale Papendangan Menjadi Ruang Belajar Kalelon dan Maka’aruyen bagi Mahasiswa Unsrat

 

Wale Papendangan di Sonder kembali menjadi ruang pertemuan dan belajar ketika sejumlah mahasiswa angkatan 2017 Jurusan Sastra Inggris, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sam Ratulangi, datang untuk menggali pengetahuan mengenai Kalelon dan Maka’aruyen, dua bentuk musik tradisi Minahasa yang menjadi bagian penting dari perhatian kebudayaan di Wale Papendangan.

Pertemuan tersebut bermula ketika para mahasiswa menghubungi Kalfein Wuisan untuk melakukan wawancara mengenai musik tradisi Minahasa. Mereka sedang mengerjakan sebuah video dokumentasi sebagai bagian dari proses perkuliahan. Para mahasiswa tersebut mengikuti mata kuliah Oral English yang diampu oleh Arter Jodi Senduk.

Wawancara kemudian berlangsung di Wale Papendangan, Sonder, sejak siang hingga malam. Dalam pertemuan itu, Kalfein Wuisan, Fredy Sreudeman Wowor, dan Reynold Siwu berbagi informasi, pengalaman, serta pengetahuan mengenai Kalelon dan Maka’aruyen. Percakapan juga menyentuh perjalanan KAMA — Kalelon Maka’aruyen, komunitas yang menjadi salah satu ruang bagi praktik dan pengembangan kedua bentuk musik tradisi tersebut.

Ketika mahasiswa datang untuk mendengar

Kehadiran mahasiswa menjadi penting karena pengetahuan mengenai musik tradisi tidak seluruhnya dapat diperoleh hanya dari buku. Sebagian pengetahuan hidup dalam orang-orang yang pernah mendengar, menyanyikan, mempelajari, mengembangkan, atau berada dekat dengan praktik tersebut.

Melalui wawancara, mahasiswa tidak hanya mendapatkan informasi mengenai nama dan bentuk Kalelon atau Maka’aruyen. Mereka dapat mendengar cerita mengenai bagaimana musik itu dipahami, bagaimana ia dipraktikkan, siapa yang terlibat di dalamnya, serta bagaimana praktik tersebut menghadapi perubahan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Pertemuan seperti ini juga menunjukkan bahwa penelitian mahasiswa dapat berkembang menjadi proses belajar yang lebih dekat dengan sumber pengetahuan. Alih-alih hanya mengumpulkan keterangan dari tulisan yang sudah tersedia, mereka datang, mendengar langsung, mengajukan pertanyaan, dan kemudian mengolah hasil pertemuan tersebut menjadi dokumentasi audiovisual.

Di sinilah wawancara menjadi lebih dari sekadar tugas kuliah. Ia menjadi sebuah perjumpaan antara pendidikan formal di kampus dan pengetahuan yang hidup di tengah masyarakat.

Kalelon dan Maka’aruyen sebagai pengetahuan yang hidup

Kalelon dan Maka’aruyen tidak cukup dipahami sebagai “musik tradisional” dalam arti sebuah bentuk kesenian lama yang kemudian dipentaskan kembali.

Di dalamnya terdapat bahasa, ingatan, suara, cara bernyanyi, hubungan antarmanusia, serta pengalaman masyarakat yang membentuk praktik tersebut.

Ketika sebuah generasi tidak lagi mengenali istilah, syair, cara menyanyi, atau konteks sosialnya, yang hilang bukan hanya sebuah jenis musik. Bagian dari cara masyarakat menyimpan dan menyampaikan pengetahuan juga ikut berkurang.

Karena itu, perhatian mahasiswa terhadap Kalelon dan Maka’aruyen menjadi sesuatu yang patut dicatat. Ketertarikan dari ruang pendidikan dapat membuka kesempatan agar musik tradisi tidak hanya tetap dipraktikkan, tetapi juga didokumentasikan, dibicarakan, diteliti, dan diperkenalkan kepada lebih banyak orang.

Dokumentasi video yang dibuat para mahasiswa menjadi salah satu bentuk dari proses tersebut. Kamera merekam bukan hanya penjelasan narasumber, tetapi juga menjadi alat untuk menyimpan sebagian percakapan yang suatu hari dapat kembali dilihat oleh orang lain.

Percakapan tentang KAMA

Dalam wawancara tersebut, pembicaraan juga berkembang kepada KAMA — Kalelon Maka’aruyen.

Kehadiran komunitas seperti KAMA penting karena sebuah tradisi membutuhkan orang-orang yang terus mempraktikkannya. Dokumentasi dapat membantu menyimpan pengetahuan, tetapi tradisi memperoleh kehidupan ketika masih ada orang yang bernyanyi, belajar, berlatih, bertemu, dan memperkenalkannya kepada orang lain.

Cerita mengenai KAMA karena itu menjadi bagian penting ketika membicarakan Kalelon dan Maka’aruyen. Mahasiswa tidak hanya berhadapan dengan bentuk kesenian, tetapi juga dengan pengalaman sebuah komunitas yang mencoba menjaga ruang bagi musik tersebut.

Dari sini terlihat bahwa kebudayaan tidak bertahan hanya karena ia pernah ada. Ia membutuhkan proses sosial yang terus berlangsung. Ada orang yang mengingat, ada yang mempraktikkan, ada yang mengajarkan, ada yang mendokumentasikan, dan ada generasi baru yang datang dengan pertanyaan.

Wale Papendangan sebagai tempat bertemunya kampus dan kampung

Pertemuan dengan mahasiswa Unsrat juga memperlihatkan salah satu fungsi Wale Papendangan sebagai ruang pendidikan alternatif.

Rumah dapat menjadi tempat seseorang belajar tentang kebudayaan melalui perjumpaan langsung. Tidak ada pemisahan yang terlalu tegas antara narasumber dan peserta belajar. Percakapan dapat berkembang mengikuti pertanyaan yang muncul, pengalaman dapat diceritakan kembali, dan sesuatu yang tidak terdapat dalam buku dapat memperoleh tempat.

Dalam konteks ini, Wale Papendangan menjadi penghubung antara dua ruang pengetahuan. Di satu sisi terdapat kampus dengan mata kuliah, penelitian, dan tugas akademiknya. Di sisi lain terdapat orang-orang dan komunitas yang membawa pengalaman kebudayaan melalui kehidupan sehari-hari.

Keduanya tidak perlu dipertentangkan. Justru ketika kampus bersedia keluar dan bertemu dengan masyarakat, sementara masyarakat memperoleh ruang untuk menjelaskan pengetahuannya sendiri, proses belajar menjadi lebih kaya.

Mahasiswa dapat membawa metode dokumentasi, kemampuan bahasa, dan pertanyaan dari disiplin yang mereka pelajari. Para pelaku kebudayaan membawa pengalaman, ingatan, istilah, serta pemahaman yang tumbuh dari keterlibatan langsung.

Pertemuan keduanya dapat menghasilkan pengetahuan baru.

Dokumentasi sebagai bagian dari perjalanan pengetahuan

Video dokumentasi yang dibuat mahasiswa mempunyai arti lebih dari sekadar produk akhir tugas perkuliahan.

Ia ikut menciptakan arsip.

Wawancara yang berlangsung pada suatu sore mungkin terasa seperti percakapan biasa bagi orang-orang yang berada di dalam ruangan. Namun beberapa tahun kemudian, rekaman itu dapat menjadi bahan untuk melihat kembali bagaimana Kalelon dan Maka’aruyen dipahami pada masa tertentu, siapa saja yang berbicara tentangnya, dan persoalan apa yang dianggap penting saat itu.

Karena itu, Wale Papendangan menempatkan dokumentasi sebagai bagian dari kerja kebudayaan. Foto, video, rekaman suara, tulisan, dan catatan wawancara dapat membantu menjaga jejak pengetahuan yang sebelumnya hanya berpindah melalui ingatan.

Dokumentasi tentu tidak dapat menggantikan praktik hidup. Namun ia dapat memperkuatnya.

Seseorang dapat belajar dari rekaman sebelum kemudian bertemu dengan pelakunya. Seorang peneliti dapat membaca arsip lama lalu mengajukan pertanyaan baru. Generasi berikutnya dapat melihat wajah dan mendengar suara orang-orang yang pernah bekerja menjaga suatu pengetahuan.



Ketika perhatian generasi baru mulai tumbuh

Salah satu hal yang paling berarti dari pertemuan tersebut adalah munculnya perhatian mahasiswa terhadap Kalelon dan Maka’aruyen.

Perhatian seperti ini tidak boleh dianggap kecil.

Keberlanjutan sebuah pengetahuan sering dimulai dari rasa ingin tahu. Seseorang mendengar sebuah istilah, kemudian bertanya. Dari pertanyaan muncul pencarian. Dari pencarian mungkin lahir penelitian, dokumentasi, karya seni, tulisan, atau keinginan untuk belajar lebih dalam.

Bagi Wale Papendangan, semakin banyak anak muda yang tertarik kepada Kalelon dan Maka’aruyen berarti semakin banyak kemungkinan bagi pengetahuan tersebut untuk terus memperoleh kehidupan baru.

Yang dibutuhkan bukan sekadar membuat generasi muda menghafal bentuk lama. Yang lebih penting adalah memberi mereka kesempatan untuk mengenali, bertanya, memahami konteksnya, dan kemudian menentukan bagaimana pengetahuan itu akan mereka bawa ke dalam zaman mereka sendiri.

Pertemuan mahasiswa Sastra Inggris Unsrat dengan Kalfein Wuisan, Fredy Sreudeman Wowor, dan Reynold Siwu di Wale Papendangan menjadi salah satu peristiwa kecil dalam perjalanan panjang tersebut. Sebuah tugas kuliah membawa mahasiswa datang ke Sonder, lalu dari sebuah wawancara terbuka percakapan mengenai musik, komunitas, bahasa, dokumentasi, dan pengetahuan Minahasa.

Bagi Wale Papendangan, itulah salah satu cara rumah dapat bekerja sebagai ruang pendidikan kebudayaan: orang datang membawa pertanyaan, bertemu dengan orang yang membawa pengalaman, kemudian pulang dengan pengetahuan yang dapat diteruskan dalam bentuk baru.